Rabu, 26 Desember 2007

Essay Untuk Tikus dan Cecunguk

Kadang pikiran saya ini terasa kosong atau entah terbang kemana saat memikirkan makna substansi kata jujur/kejujuran.Saya, anda dan kita pasti sudah tak asing lagi dengan kata yang satu ini.Buat saya yang tidak punya kompetensi dibidang kebahasaan, tentu tidaklah tepat untuk ber bla - bla mendefinisikan kata jujur, sejatinya sih saya teringat pada apa yang pernah dikatakan oleh Socrates bahwa untuk memahami sesuatu kita harus terlebih dahulu mengetahui defenisi dari apa yang akan kita bahas/kaji, buat saya itu benar sekali Bpk Socrates namun apadaya, saya yang hanya memiliki tingkat kecerdasan minim tidaklah mampu untuk memberi defenisi leterlegh atas kata jujur atau jujur yang diberi awalan ke dan berakhiran an.

Saya hanya sedang mencoba untuk lebih mengerti apakah saya itu sudah berhasil memahami arti hakiki dari kata jujur itu sendiri ( yang ternyata terdapat lebih dari satu defenisi ) lalu apakah saya sudah bisa menarik nilai universal yang tersirat dibenang merah dalam defenisi - defenisi jujur ?. Nurani saya mengatakan saya tahu apa itu dan bagaimana itu jujur. Tapi sejujurnya saya belum sepenuhnya mengaplikasikan kejujuran didalam menjalani hidup.

Di saat saya terjun didunia yang hidup ini, berbohong buat saya sudah menjadi semacam tradisi, dulu saat hampir seluruh orang tua dibumi ini menuntut nilai akademis yang bagus dari anak -anaknya, si anak jadi sering berusaha terus untuk dapat nilai bagus walau dengan cara berbohong atau menipu diri sendiri, dan ortupun percaya kalau anak - anaknya hebat, pintar dsb, dsb. Si anakpun bangga dengan nilai - nilai bohongnya.

Kemudian saya yang termasuk dari bagian anak - anak itupun mulai masuk kedunia kerja, yang ternyata sama saja. Sama dalam hal menuntut untuk berbuat dusta selanjutnya. Berbohong dengan client, atau pihak manapun yang ingin menemui bos adalah hal yang sering saya, kita dan mungkin anda lakukan disa'at - sa'at sang bos ogah menemuinya. Berbohong ternyata sudah menjadi bagian dari hidup saya dan mungkin juga anda, dan banyak dari kita memberi pembenarannya. Oh, kalau berbohong demi kebaikan tidak apa - apa, itu seperti yang kita sering katakan untuk menentramkan hati kecil yang sudah berdusta, siraman menentramkan yang senantiasa kita buat untuk mengabsahkan segalanya, siraman sejuk yang akhirnya malah membekukan hati kita.

Karena bekunya hati saya, anda dan kita maka ringan dan mantaplah bagi kita untuk terus melangkah kedusta - dusta selanjutnya yang lebih dasyat, yang selalu akan kita lakukan karena akan mendapatkan keuntungan materi dan nilai financial yang bisa saja bernilai tak terhingga. Berbuat licik, menipu, menjarah harta yang bukan hak kita atau bahkan nepotisme buta dan membunuh akses/kesempatan orang lain yang sama - sama punya hak seperti kita menjelma menjadi dusta biasa.Tak mengapa toh untuk kebaikan saya, anda dan kroni - kroni kita.Semakin hari aku semakin terbiasa, tak lagi bingung ini dusta "putih, hitam, abu abu atau merah, kuning, hijau di bumiku ini.

Kejujuran, mahluk apakah engkau ? , aku hanya menuntut orang lain untuk jujur kepadaku, begitu lantangnya aku menyuarakan kejujuran untuk orang lain tapi bukan untukku. Aku bersembunyi dan menutup hati. Aku ....takut padamu.