Kepanjangan PNS adalah Pegawai Negeri Sendiri.
Karena memang dibuat sistem yang sedemikian rupa sehingga semua yang berhubungan dengan akses kepegawaian dan kesejahteraannya memang dibuat untuk dinikmati oleh kalangan sendiri. Kalangan sendiri yang berputar antara anak, kerabat atau famili dekat dan jauh ( koneksi karena pertemanan ).
Masalah nepotisme selagi tidak ada aturan yang mengharamkannya ya tentu syah - syah saja . Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah rekomendasi, buat saya rekomendasi boleh - boleh saja selagi yang direkomendasikan itu memang kompeten dan profesional. Tak dipungkiri di negeri ini banyak yang menyalahgunakan kedudukan dan kedekatan untuk memberi dan mendapat rekomendasi . Ketebelece itu mungkin istilah yang tepat untuk rekomendasi dalam arti sempit ( dalam arti/intrepertasi para birokrat ) .
Nepotisme di negeri ini memang satu hal yang lumrah, yang ternyata tidak hanya dilakukan dijajaran eksekutif, badan yudikatif dan legislatif pun sama saja. Tak dapat ditutupi nepotisme di negeri tidak membawa banyak manfaat tapi banyak mudharat . Akses kesempatan kerja, mendapatkan modal, kesempatan berusaha dan perlindungan hukum hanya berputar - putar dilingkungan kekerabatan. Ketebelece hanya berlaku untuk pertemanan atau kongsi - kongsi mereka. Luas dan kayanya hasil bumi ini cuma jadi asset penghasil duit negara yang ujung - ujungnya cuma memenuhi isi perut dan kantong - kantong mereka.
Saya jadi teringat Teori Mendel , kalau perkawinan dilakukan oleh mereka yang masih berkerabat dekat dan dilakukan secara terus menerus maka akan dihasilkan keturunan yang buruk, rentan penyakit dan kemungkinan cacat. Implementasi Hukum memang berbeda dengan teori Mendel tapi untuk aplikasi hukum di lapangan rasanya boleh lah sedikit menganalogikan dengan teori Mendel.
Di ranah Pegawai Negeri Sendiri ( Kerajaannya sendiri ), hukum telah mati, ia cuma jadi retorika penguasa yang juga kebal hukum, si Anu sungkan menegur apalagi memberi sangsi ke si Ani karena si Ani anaknya sendiri, bapaknya sendiri, kerabat, temen atau sahabatnya sendiri. jadi berputar pada itu - itu saja. Ada pakewuh, sungkan atau hutang budi untuk menerapkan aturan/hukum sebagaimana mestinya.
Akhir dari kepakewuhan, kesungkanan dan rasa hutang budi tadi adalah out put yang jelek berupa kemandulan hukum yang berlangsung terus menerus dan ndilalahnya ini menyangkut masalah kepengurusan negara yang sebegini besarnya, yang masalahnya tidak kecil atau cuma selevel teori hereditas milik Mendel. Ini masalah masa depan negeri dan bangsa ini. Sepertinya dinegeri inilah yang Pegawai Negerinya benar - benar merasa bahwa ini adalah negaranya sendiri, uang sendiri yang lain numpang. Jadi syah - syah saja buat mereka untuk memakan, menikmati, mengkorup dan menghabiskannya.
Kamis, 20 September 2007
Enaknya Jadi PN S ( Pegawai Negeri Sendiri )
Diposting oleh
sari
di
17.40
Label: Opini Bebas
Senin, 17 September 2007
Tentang Anak
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putra - putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka datang melalui engkau
tetapi bukan dari engkau
dan walau mereka bersamamu
tapi mereka bukan milikmu
Kau dapat memberi mereka cinta kasih
tetapi tidak pikiranmu
sebab mereka punya pikirannya sendiri
Kau dapat merumahkan tubuhnya,
tetapi tidak jiwanya
sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan yang tiada dapat kau sambangi,
bahkan tidak dalam impian - impianmu
kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka
tetapi jangan berusaha membuat mereka sepertimu
By : Kahlil Gibran, Sang Nabi
Gnothi Se Authon by ALFATHRI ADLIN
Gnothi Se Authon ( Kenalilah dirimu sendiri ) . Ucapan kata mutiara Apollo itu digunakan socrates untuk mengajari warga Athena agar mengenali siapa diri mereka sejati. Kehidupan yang tidak ditafakuri ialah kehidupan yang tidak layak dijalani.
Manusia menurut Socrates mempunyai "diri yang nyata" yang harus ditemukan dan dikenali oleh dirinya sendiri. Kebahagiaan yang nyata terdapat dalam pengenalan akan diri yang nyata tersebut.Dengan mengenal siapa dirinya manusia akan mengetahui bagaimana sebaiknya berbuat.
Socrates menghimbau kaum muda untuk brtafakur agar dapat mengenal diri sendiri. Walaupun pengetahuan dapat dipelajari melalui debat dan diskusi, Socrates tetap menekankan bahwa pengetahuan yang nyata mengenai esensi harus dicapai dengan pengenalan diri sendiri.
Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar - benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, melainkan untuk mengetahui , atau bahkan mengeksploitasi segala hal selain diri sendiri.
Frederich Nietzche, seorang filsuf Jerman abad XIX, juga sudah mensinyalir hal tersebut dengan mengatakan : Kita tak kenal , kita ( yang katanya berpengetahuan ) tak kenal diri sendiri ....niscaya kita tetap asing bagi diri kita sendiri, kita tak paham diri kita sendiri.
Manusia tak ubahnya tanah liat tak berbentuk dan menantikan dibentuk menjadi apapun. Identitas kita dipandang hanya sebagai konstruksi sosial - budaya belaka yang menjadi cetakan bagi manusia yang terlempar kedalamnya. Pandangan seperti ini semakin mengarahkan manusia untuk bergerak, melihat, dan mempelajari segala sesuatu diluar dirinya dan melupakan khasanah dirinya sendiri.
Dalam tren buku - buku psikologi populer, manusia malah lebih sering diarahkan untuk terobsesi menjadi orang lain yang dipandang sebagai simbol paripurna. " bagaimana menjadi Michael Jordan misalnya. Padahal, orang yang selalu ingin menjadi seperti orang lain adalah pecundang.
Socrates tentang pengenalan diri yang nyata atau diri sejati sudah mengisyaratkan tentang "cetakan" primodial manusia. Gunting yang dibuat untuk menggunting tentu akan melakukan kerja tersebut lebih baik daripada benda lainnya. Begitupun manusia dia diciptakan untuk sebuah tujuan , dan dapat melaksanakan tujuan tersebut dengan lebih baik dari padamahluk lain yang tidak diciptakan untuk tujuan itu.
Dalam ajaran Socrates terlihat adanya "energi minimal", sebuah energi dimana seseorang terlihat oleh orang lain seperti tengah bekerja keras mengerjakan sesuatu. Padahal, bagi yang bersangkutan, kerja keras tersebut tak ubahnya seperti ikan yang bernapas di air. begitu mudahnya melarutkan diri dalam keasyikan dalam kerja.
Akan tetapi, tak setiap energi minimal tersebut dimanfaatkan oleh manusia untuk memahami dirinya . seringkali yang terjadi adalah; terciptanya jurang yang lebar antara pengetahuan yang diperoleh melalui energi minimal tadi dan pengenalan diri melalui pengetahuan tersebut.
KOMPAS 17 Nofember 2007
Diposting oleh
sari
di
02.02
Jumat, 14 September 2007
Di Rumahku Ada Surga
Taman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja
Satu tak kehilangan lain dalamnya
bagi kau dan aku cukuplah
Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan manusia
By: Chairil Anwar
Puisi ini adalah tentang rumah yang disebut taman. Taman hati . taman hidup. Tidak harus luas dan megah ruanganya. Tapi cintalah yang membuat serasa didalamnya. Cintalah yang membuat cukup lapang di dalam dada. Cintalah yang membuatnya nyaman dihuni.
Kenyamanan, itulah rahasianya. Rahasia jiwa yang diciptakan oleh cinta. Dengannya kita mampu bertahan dalam memikul beban hidup, melintasi aral kehidupan, melampaui tak berhingganya gelombang peristiwa, sambil tetap merasa nyaman dan teduh. Eksresi cinta berupa kenyamananlah yang mampu menyerap semua emosi negatif yang masuk ke dalam serat - serat jiwa melalui bombardir himpitan peristiwa kehidupan. Segala luka emosi yang kita alami di sepanjang jalan kehidupan ini hanya mungkin dirawat disana, dalam rumah cinta.
Ada sebuah tembok bangunan yang kuat
Tembok yang mengelilingi dan melindungiku
Adalah Tembok yang dibangun dari kata - kata yang kau ucapkan padaku
By : Mary Carolyn Davies :
Jiwa yang terlindungi akan cepat bertumbuh dan berbuah. Sederhana saja. Hakekat cinta sebenarnya hanya memberi. Memberi semua kebaikan yang tersimpan dalam jiwa, melalui tatapan mata, kata atau tindakan. Jika terus menerus kita memberi kita akan terus menerus menerima. Pemberian jiwa itu menghidupkan kekuatan kebajikan yang sering tertidur dalam jiwa manusia. Mari melihat pepohonan disekitar, mereka yang awalnya hanya menyerap/menerima asupan mineral, air dan sinar matahari dari lingkungannya kelak dikemudian hari pepohonan itu akan mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya; buahnya dan keindahannya.
Dalam rumah yang penuh cinta itulah kita akan menemukan rasa aman, kenyamanan dan kekuatan untuk terus bertumbuh. Itu sebabnya rumah cinta seperti itulah yang menghadirkan surga dalam kehidupan kita. Rumah seperti itulah yang dengan ridhoNya akan utuh dan abadi.
Disadur dari Serial Cinta : Anis Matta LC,
Partai Keadilan Sejahtera
Rabu, 12 September 2007
Godaan Hati
Ini hari pertama di bulan Rhamadan. Alhamdulillah Insya Allah gue puasa. begitu nyampe di meja kerja bukan kerjaan yang menganggu gue tapi seseorang yang pagi - pagi sudah ngegosip. Gue sebisa -bisanya aja dengerin , karena jujur aja gue juga sebel cuma mo negor langsung rada - rada ga enak ( buat gue ngadepin emak - emak yg umurnya jauh diatas gue, gue lebih banyak ga bisa tegas, apalagi gosipnya lebih ke curahan hati yang sedikit dibumbui rasa kesal terhadap seseorang yang lagi diceritaiin ke gue ) Ya Allah engkau yang maha tau seberapa kekuatan ku.
Buat gue sulit banget buat ngejaga hati , kuping dan lidah untuk tidak melakukan hal - hal yang memalukan gue di hadapanNya. apa ini konsekwensi hidup bersosialisasi ? ga juga khan?, emang sih kita kudu - kudu pandai mencari teman, syukur kalo dapat teman yang selalu ngajak ke kebaikan na kalo ga dapat dikarenakan emang saat ini kondisi yang kita harus dihadapi adalah kondisi yang jauh dari kondusif mo ga mau kita harus ngadepin kan ?.
Diposting oleh
sari
di
18.40
Label: Uneg - Uneg
Selasa, 11 September 2007
Lu yang Gue Benci
Elu yang gue benci.
Lu dimata gue adalah cuma sosok goblok yang bernasib baik.
Bernasib baik karena kelicikan elu yang pinter cari kesempatan dan aib orang. Prilaku yang doyan makan jatah , tanah dan ga jarang isteri atau pacar orang adalah cuma sebagaian kecil dari sepersekian kebobrokan moral lu yang mungkin itu hasil didikan atau emang turunan bapak emak lu ?
Bagi gue level lu masih di bawah sampah busuk!. Sampah busuk masih ada gunanya, kalo elu cuma jadi parasit bangsa.
Otak lu jauh dari intelek apalagi moral lu, ga ada pantes 2 nya jadi penguasa.Gue tau banget kartu lu. Elu kan yang pake gelar palsu, S1 beli S2 di kampus yang ngampang lulusin mahasiswa kosong dan bego tapi banyak mulut. Bukan gue aja yang tau aib lo !. Ga pantes otak lu nyandang gelar akademik yang sepatutnya dijunjung.
Elu emang pantes masuk jajaran birokrat ter- akhir gue denger lo nyalonin jadi politisi . Pantes lah ! itu jalur yang pas buat lu. Asal lu yang goblok tu nyadar bahwa negeri ini emang lebih butuh orang - orang macam lu, yang lebih ngandelin koneksi tanpa prestasi, yang gak butuh pinter, kerja keras apalagi nurani buat dapet posisi.
Asal lu tau ya, lu gak perlu belagu, sok jadi pembesar yang cuma omong besar, petantang - petenteng dan sok sibuk ga karuan . Lu manusia yang ga berguna dan ga berjasa buat negeri jangan pernah berpikir gue dan orang di luar sana sama goblok dan rendahnya kayak lu.
Buat gue dan orang - orang diluar istana lu . Elu hanyalah representasi sekelompok monyet, ular dan tikus elit, badutyang berjalan dengan perut kenyang diantara masyarakat umum yang kelaparan dan bergaya jetset ditengah jatuhnya nilai rupiah serta mampu tegak diantara orang - orang idealis pintar yang akhirnya memilih jalur perlawanan diam .
Jadi ... nista ! deh lu . Lu, turunan lu juga kroni - kroni lu cuma masuk kotak hitam sejarah gelap mereka. Mereka bagian dari bangsa ini yang masih punya nurani dan harga diri bukan milik sekelompok/kroni yang sudah buta mata hati.
Diposting oleh
sari
di
23.31
Label: Uneg - Uneg
Cuplikan Dealektika Hegel
Kita hidup di tengah 2 misteri. Salah satunya adalah misteri perubahan, yang lain adalah misteri identitas. Keduanya merupakan realitas tetapi realitas yang tidak terpisahkan. Sungai senantiasa berubah dan tak pernah sama. Air yang dikandungnya tak henti - hentinya mengalir dan berganti. Tebing 2 sungai dan volume air selalu berubah, bergantung musim. Semua ini adalah fakta yang bisa diamati dan tak bisa dibantah.
Tetapi dalam pengertian lain kendati ada perubahan, sungai memiliki identitas yang bersifat tetap dan tak bisa memberi presepsi keliru. Amazon, Mississippi dan Gangga contohnya. Ketiga sungai ini telah ada ribuan tahun lamanya, ditempat yang sama dan memiliki aliran yang sama dan dengan jelas bisa dikenali meskipun selalu berubah.
Begitupun manusia, anak kecil dan orang dewasa berbeda namun perhatikanlah ada ciri 2 individual pada seorang anak yang bersifat tetap dan bisa dikenali setelah ia dewasa. Manusia senantiasa berubah , selalu tumbuh dan menjadi tua. Kadang sulit mengenali teman lama, tetapi keistimewaannya tetap dan akan nampak bila diamati. Perubahan memang konstan, tapi identitas juga bersifat konstan. Kebenaran sepenuhnya hanya bisa dicapai dengan memasukkan keduanya ke dalam pertimbangan.
Inilah inspirasi pokok yang dikutip dari dealektika Hegel, yang mencari titik temu antara hal 2 yang bertentangan dalam sintesa yang lebih tinggi .
( Pemahaman dari : The Trial Of Socrates , Pusaka Utama Grafiti 1991 )
DENDAM KU
Pak, Bu kalo dulu aku bisa atau diperbolehkan memilih, aku akan memilih untuk bersekolah di TK, SD, SMP dan SMA yang lain, dimanapun yang penting bukan di sekolah itu. Kalau perlu dan mampu aku lebih memilih di sekolah negeri , yang katanya dulu lebih banyak berantemnya, yang katanya dulu tidak disiplin dan bermutu pelajaran yang kalah dibanding dengan sekolah itu. Sekolah dimana yang dulu harus menjadi tempatku menuntut ilmu.
Pak, Bu, sebenarnya aku tak suka bersekolah disitu, apapun predikat baik yang disandang sekolah itu aku tak peduli, aku hanya ingin rasa senang dihati saat mana aku harus menuntut ilmu, bukan keterpaksaan dan rasa takut. Tahukah Bapak dan Ibu aku tak suka perlakuan galak apalagi meremehkan diriku hanya karena pernah salah menjawab soal. Tahukah Bapak, Ibu bahwa aku adalah aku, yang berbeda dengan mereka atau dengan kakakku yang memang sesuai dengan pola guru - guru itu, di sekolah itu.
Aku tak suka mereka !, sekolah dan hampir sepertiga jumlah guru - gurunya, dipaksapun aku tetap tak suka. Maafkan aku Pak, Bu, jika aku mengecewakan kalian, aku tidak sepandai kakakku dan akupun tidak ingin jadi seperti kakakku itu, dan ampuni aku karena kesengajaanku memberi yang terjelek untuk bidang akademisku. maafkan akan kesenangannku untuk memberi yang terjelek yang sesungguhnya kupersembahkan buat guru - guru itu, sebagai balas dendamku. Jika mereka lebih pintar dariku harusnya mereka tau ada apa dibalik itu ????
Diposting oleh
sari
di
21.10
Label: Cerita Bebas
Kata Gue Yang Apatis
Mungkin negara ini akan adil makmur gemah ripah loh jinawi jika negara ini diurus oleh para orang pintar yang bijak dan punya niat yang lurus semata - mata mengabdi buat negara dan bangsa, dengan berpijak pada nilai - nilai keadilan yang substansi formulasinya paling tidak terdiri atas teologi keTuhanan, filsafat, dan kebenaran - kebenaran praktis yang universal . Namun sayangnya kepengurusan ini hanya dipegang oleh sekelompok elit yang itu - itu saja, yang sudah jelas dari dulunya cuma pintar dislogan, kaya retroika tapi miskin implementasi.
Prek !, sejatinya banyak sudah kemuakkan yang harus terus ditahan, gue kadang mikir apa nasib bangsa ini harus seperti ini terus ?. Terus menerus disusahin oleh persoalan klasik ( pangan, papan, akses permodalan dan kesempatan untuk ber-eksis dengan cara - cara yang fair ) . Gue bukan orang yang gampang yakin dan percaya sama laporan - laporan ekonomi makro yang njelimet, yang cuma bisa kasih angka - angka gede tentang kenaikan / kemajuan ini itu di sektor makro. Gue cuma orang bego yang taunya cuma keadaan riel di lapangan yang ngadepin langsung hasil dari kebijakkan dan tipuan para setan intelek yang katanya pintar ngurus negara itu , persetan ama grafik - grafik makro yang ( kelihatannya naik ), keparat ! itu serapah yang paling sering gue lemparkan ke orang - orang gila itu.Orang gila, orang gila yang ingin terus menerus menguasai negara dan apa yang sudah dihasilkan oleh perut negara ini untuk dimasukkan ke perut mereka dan kroninya.
Kata gue yang apatis, orang - orang pinggiran macam gue akhirnya harus menghadapi dua pilihan hidup untuk terus hidup. Pilihan pertama adalah mau ga mau gue harus ikut arus, arus dari sistem yang sudah dengan sengaja diciptakan oleh sekumpulan setan, iblis berwujud manusia. Sistim tipu muslihat yang dibungkus slogan - slogan kerakyatan, keadilan dan kesetaraan hukum tapi prakteknya cuma bisa ngeduk duit dan ngabisin duit buat para pemainnya. Pilihan kedua gue tetep dengan pijakan idialisme gue walaupun gue harus perlahan mati ter-engah - engah.
Diposting oleh
sari
di
17.25
Label: Opini Bebas
Rabu, 05 September 2007
WARTAWAN GOSIP/INFOTAIMENT
Era ini adalah era wartawan gosip/wartawan infotaiment. Tersfasilitasi oleh wadah multimedia berita - berita yang disajikan oleh para pemburu/penggosip ini mendapat tempat yang layak bahkan tak jarang mendapat rating tertinggi. Pangsa pasar yang begitu besar mendapat sambutan dengan banyaknya suguhan gosip yang selalu tersedia dan seakan tak ada habisnya tersaji lewat media cetak maupun media audio visual. Akankah ini representasi bangsa kita ?, bangsa yang cuma haus berita murahan dibanding berita - berita yang lebih bermutu dan bermanfaat ? yang kemudian dimanfaatkan oleh beberapa pemilik modal besar khususnya yang bermain di industri hiburan . Kegigihan para insan pers khususnya pembawa bendera infotaiment untuk mendapat pengakuan bahwa profesi mereka adalah sejajar dengan wartawan/pencari berita fakta lainnya pastilah mendapat dukungan penuh dari para bos pemilik modal itu.
Jadi zaman yang berpihak pada kita - kita yang lebih gemar mengosip, atau " mereka - mereka " yang mengendalikan zaman dengan menciptakan/menstimulus " naluri"? bangsa ini dengan membombardir suguhan - suguhan gemerlap gosip seleb dan public figure.
Teori apa yang tepat untuk mewakili fenomena ini ? . Siapa yang lebih punya andil menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang hanya pintar bergosip, bergunjing, menebar issu atau bahkan fitnah. Terlepas dari perlindungan hukum pers akan keberadaan mereka . Kita sudah menyedikan ruang luas dan bebasan untuk berita murahan yang berdaya jual tinggi tanpa mau peduli . Peduli bahwa kepintaran mengejar gosip, issue ditambah pendramatisiran " berita " demi keuntungan kantong pribadi hanyalah pekerjaan yang hanya membutuhkan " kepandaiaan " yang tidak tergolong educated dan jauh dari etika dan nilai jurnaslitik sesungguhnya.
Diposting oleh
sari
di
22.59
Label: Opini Bebas
Senin, 03 September 2007
Kematian yang gue ga tau kapan
Bulan Agustus ini dua kali gue melayat. Pertama gue ngelayat anak bos yang meninggal karena kecelakaan. Layatan kedua tetangga gue sendiri yang meninggal karena usia dan juga sakit yang tak kunjung sembuh.
Diwaktu - waktu seperti itu gue kadang diliputi mood yang aneh.Mood yang jujurnya bikin gue sedih tanpa sebab ( karena jujur gue kadang melayat jenasah yang secara emosionil ga ada hubungan apa - apa, jadi gue sedih aja ama diri gue dan peristiwa kematian itu sendiri) .
Kadang kematian membuat gue nyadar dan berpikir; kita, gue bakal begitu. Pikiran gue cuma gimana gue kelak ngadepinnya, kalo malaikat maut gue ga mungkin ga takut yang ada gue malu ama yang nyiptaain dia dan yang nyiptaiin gue. Sayangnya rasa malu itu ga ngejadiin gue berusaha keras untuk melakukan hal - hal yang kelak tidak mempermalukan gue dihadapan Dia. Gue masih aja jadi manusia sok pintar, belagu, sok tau dan sok - sok lainnya.Apalagi amalan gue weee masih jauuuh yang ada juga riya.
Kematian dia adalah kepastian
Dia adalah keniscayaan. Meski waktu tahu, dia pasti membisu dan tak kan memberi tahu.Tapi buat gue, pastilah ada tapi entah kapan, Dia yang akan datang, tanpa batas tanpa sekat tak terkendali dia datang menghampiri. Gue pengen saat itu, gue udah punya sesuatu yang ga bikin gue malu.
Diposting oleh
sari
di
18.26
Label: Opini Bebas
Di Obral !
Obral, obral
Dijual murah !
Sebuah negeri indah yang kaya raya dengan sumber alamnya. Negeri yang benar - benar gemah ripah . Penduduk negeri itu selain terkenal dengan keramah-tamahan dan kemurahan senyumanya juga terkenal dengan peringkat korupsinya yang cukup mencengangkan serta tingkat kemiskinan yang dalam kenyataannya ga pernah turun peringkat.
Di negeri ini para penguasa jajaran eksekutif, yudikatif and legislatifnya terlihat rajin beribadah namun ga punya etika moral, rasa malu apalagi rela berkorban demi rakyatnya.........( mimpi kali ye ). Hampir seluruh aparat negaranya brengsek, saling kongkalikong menyelamatkan duit negara ( selamat agar masuk kantong pribadi dan kroni), pelindung para koruptor , anggota dewan yang doyan duit dan mesum serta aparat hukum yang bisa dibeli duit semuanya lengkap ada disini.
Bagi para Koruptor, Gembong Mafia, Raja Kasino, Psikopat Politik dan Germo Level Internasional yang berminat silahkan hub : Hp 00000000 atau semedi sambil menyebut : Raja Setan Alas Penguasa Kerak Neraka sebanyak 3 X
Diposting oleh
sari
di
02.10
Label: Puisi Bebas
Minggu, 02 September 2007
Kelupaan Kunci
Pagi ini gue da nyampe kantor, cuman begitu mo buka lemari doc. gue kuncinya ketinggalan di dalam lemari ( na! lo ) gu coba pake klip , eh malah patah and ketinggalan di lobang kunci, gue bismilah aja nyoba ngorek 2. akhirnya patahan klip bisa keluar, sekarang gue berharap uda ada bagian umum yang masuk and moga 2 juga dia bisa bongkar ni lemari, kalo ga berabe de.
Tapi seperti pengalaman gue yang sudah 2, pas kepepet Allah selalu nolong gue, walaupun barusan gue udah coba telepon bagian umum belum ada satu manusia pun yang datang padahal uda jam 7.30 lebih , Insya Allah gue yakin tu lemari bakal kebuka sebelum bos gue datang.
Diposting oleh
sari
di
17.22
Label: Uneg - Uneg
