Selasa, 11 September 2007

Kata Gue Yang Apatis

Mungkin negara ini akan adil makmur gemah ripah loh jinawi jika negara ini diurus oleh para orang pintar yang bijak dan punya niat yang lurus semata - mata mengabdi buat negara dan bangsa, dengan berpijak pada nilai - nilai keadilan yang substansi formulasinya paling tidak terdiri atas teologi keTuhanan, filsafat, dan kebenaran - kebenaran praktis yang universal . Namun sayangnya kepengurusan ini hanya dipegang oleh sekelompok elit yang itu - itu saja, yang sudah jelas dari dulunya cuma pintar dislogan, kaya retroika tapi miskin implementasi.

Prek !, sejatinya banyak sudah kemuakkan yang harus terus ditahan, gue kadang mikir apa nasib bangsa ini harus seperti ini terus ?. Terus menerus disusahin oleh persoalan klasik ( pangan, papan, akses permodalan dan kesempatan untuk ber-eksis dengan cara - cara yang fair ) . Gue bukan orang yang gampang yakin dan percaya sama laporan - laporan ekonomi makro yang njelimet, yang cuma bisa kasih angka - angka gede tentang kenaikan / kemajuan ini itu di sektor makro. Gue cuma orang bego yang taunya cuma keadaan riel di lapangan yang ngadepin langsung hasil dari kebijakkan dan tipuan para setan intelek yang katanya pintar ngurus negara itu , persetan ama grafik - grafik makro yang ( kelihatannya naik ), keparat ! itu serapah yang paling sering gue lemparkan ke orang - orang gila itu.Orang gila, orang gila yang ingin terus menerus menguasai negara dan apa yang sudah dihasilkan oleh perut negara ini untuk dimasukkan ke perut mereka dan kroninya.

Kata gue yang apatis, orang - orang pinggiran macam gue akhirnya harus menghadapi dua pilihan hidup untuk terus hidup. Pilihan pertama adalah mau ga mau gue harus ikut arus, arus dari sistem yang sudah dengan sengaja diciptakan oleh sekumpulan setan, iblis berwujud manusia. Sistim tipu muslihat yang dibungkus slogan - slogan kerakyatan, keadilan dan kesetaraan hukum tapi prakteknya cuma bisa ngeduk duit dan ngabisin duit buat para pemainnya. Pilihan kedua gue tetep dengan pijakan idialisme gue walaupun gue harus perlahan mati ter-engah - engah.