Kamis, 12 Juni 2008

Enggak Rumit

Saya meyakini bahwa kebahagiaan tidak selalu muncul disaat semua hal yang kita ingini terpenuhi. Ia bisa muncul ditengah kekurangan, ketidakmampuan bahkan ketidakberdayaan memenuhi si keinginan itu sendiri. Bingung ?? enggak juga.. Mengapa saya tidak bingung mungkin berhubungan dengan cara berpikir saya yang teramat sederhana. Apa yang saya katakan itulah yang saya rasakan. Dan mungkin ini hanya karena saya sering mengalami hal- hal dimana keinginan – keinginan saya banyak yang tak terpenuhi saya jadi kebal alias imum .


Stress kata orang – orang pintar salah satunya dipicu oleh rasa kecewa. Kecewa apa yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan., apa yang diidam – idamkan tak sesuai dengan yang dihadapan. Pastinya sebagai manusia biasa jelas saya juga pernah stress. Bokap meninggal, gagal saat ujian, pengen sekolah lagi gak bisa, gak lulus wawancara, gak punya duit, sampe naksir yang enggak kesampaian.. Tapi yaitu tadi karena saya otaknya gak mampu dan gak mau berpikir rumit jadilah saya orang yang cuma bisa nrimo, paling bengong sebentar cuma buat ngadem – ngademin ati dari simahluk yang bernama kecewa.

Kata seorang teman sikap saya yang kayak begitu adalah sikap seorang yang diragukan tingkat empatinya dan cenderung cuek apatis dan tidak optimis. Waduh! Julukan atau istilah istilah itu membingungkan saya. Karena membingungkan ya sudah saya putuskan untuk mengacuhkan saja, buang waktu rasanya memikirkan sesuatu diluar kemampuan. Hanya saya jadi heran kenapa teman yang berkomentar itu kok jadi sering curhat dan banyak mengeluh ya??.

Selasa, 10 Juni 2008

Logika Jungkir Balik

" Kalangan pengusaha merasa khawatir dengan langkah yang suh dilakukan Dirjen bea dan Cukai Anwar Suprijadi dan KPK dalam melakukan inspeksi mendadak di kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok pada tanggal 30 Mei lalu. Alasan pengusaha khawatir petugas Bea dan Cukai akan menjadi terlalu hati2 karena takut dituduh menerima suap" ( Harian Kompas Sabtu 7 Juni 2008).

Kalau mikir bagaimana tanggapan dan kekhawatiran para pengusaha ini kok rasanya aneh ya?, seperti gak masuk diakal dan terlalu mengaada - ada.Kok yang takut malah jadi dua pihak, pengusaha takut para petugas juga takut. Ketakutan seperti ini menurut saya malah menimbulkan kecurigaan jangan - jangan budaya suap menyuap disatu sisi juga menguntungkan buat para pengusaha yang maunya jaln pintas, biar urusan cepat selesai jalan by pass kalau perlu dilakukan dengan cara suap biar urusan cepat selesai.

Apakah para pengusaha itu kumpulan orang - orang yang berpikiran pragmatis? saya pikir pragmatis yang mana dulu kalau pragmatisnya hanya untuk menghalalkan segala cara tentu tidaklah etis dan tdk dibenarkan. Kekreatifan tentu bukan kreatif yang berujung ekonomi biaya tinggi, biaya siluman yang akhirnya diajust dengan biaya produksi tentu ujung - uungnya konsumen juga yang kena getahnya.

Alasan pengusaha yang takut kalau2 para petugas bea dan cukai dituduh menerima suap malah lebih lucu lagi. Masak yang takut pihak lain para pengusaha lagi?, lha kan seharusnya yang takut itu ya para petrugas bea dan cukainya, ngapain juga harus takut kalau memang sudah mengikuti jalannya standar prosedure perpajakan dsb.
Menurut saya jangan - jangan banyak pihak yang merasa dirugikan kalau kebobrokan yang selama ini terjadi di tubuh institusi pemerintah semisal bea dan cukai itu dibenahi

Rabu, 16 April 2008

The Soul Of Pictures

Lukisan, satu kata yang bisa mengandung banyak makna. Kita boleh saja mendefinisikannya suka – suka. Saat mata menangkap gambar maka rasa keindahan bisa berbeda, namun kejernihan mata hati dalah juri.

Begitu banyak lukisan dihasilkan namun tak berbanding lurus dengan pencitraan. Lukisan mahakarya adalah peneteraan spirit jagat raya. Cerminan keabadian dari kecantikan ibu bumi

Adalah sang maestro dengan mahakaryanya, besar dan agung. Orisinalitas beresensi kemisteriusan roh dan spirit yang sulit terdefinisikan. Pancaran kekuatan dari universalitas alam kosmis tak terkukung oleh kerangka pigura.

Adalah Sang Maestro dengan Mahakarya. Warna bisa memudar tak lagi cemerlang, namun semangat dan kecemerlangan yang kasat mata akan terus tinggal, tak termakan tuanya dunia dan usia. Itulah hakiki kehidupan yang dipahami dan direfleksi sang maestro, penggores kanvas dan pencitra dari yang dicitrakan.

Kamis, 14 Februari 2008

Keindahan yang relatif I

Banyak ragam corak lukisan.
Keindahannya adalah kerelatifan.
Berbeda dengan kebenaran yang berakar dari rujukan.
Rujukan keabadian Qalam Ilahi.
Keindahan lukisan, indah disini belum tentu disana.
Keindahannya adalah perpaduan warna dengan sejuta gradasi dan coretan kuas diri.
Ada watak, kondisi dan suasana hati.

Lukisan, disatu sisi adalah keindahan yang telanjang.
Sisi lainnya tak jarang adalah labirin dan jaring misteri.
Kemisteriusan yang dalam tak berdimensi dan tak berkategori.
Absurd.

Kita adalah pelukis – pelukis itu.
Motivasi, niat, kadar keimanan dan watak kita adalah warna perpaduannya.
Tangan hanyalah alat. Kanvas adalah wahana. Hasil akhir adalah cermin

Apakah kanvas akan kebenaran mampu mengalahkan keindahan ?.
Keindahankah yang mengalahkan kebenaran ?.
Atau keduanya membentuk harmonisasi ?.

Lukisan ber-rujuk kebenaranlah yang memiliki keindahan hakiki.
Misteri transenden yang tersembunyi.
Keindahan surgawi yang merasuk dihati.
Mendamaikan.
Menenangkan dan menyelamatkan.

Selasa, 12 Februari 2008

Korban HAM Tak Ingin Maafkan

Korban HAM Tak Ingin Maafkan
Published by Anonymous on 14/Jan/2008
Memaafkan itu urusasn nanti, setelah pemerintah melaksanakan proses hukum.

Sabtu, 12 Jan 2008,

Korban HAM Tak Ingin Maafkan

JAKARTA - Sejumlah keluarga korban pelanggaran HAM (hak asasi manusia) pada era kekuasaan Soeharto kemarin menyempatkan diri ke RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina). Mereka berdoa supaya mantan presiden itu kembali sehat serta meminta agar kesalahannya sebagai pelaku kekerasan HAM tetap diusut.

"Pemerintah dan politisi harus memandang keberadaan kami sebagai korban pelanggaran HAM yang dilakukan Soeharto," tegas Bejo Untung, salah seorang korban pelanggaran HAM peristiwa 1965, di lobi RSPP kemarin. Bejo bersama sekitar 30 anggota keluarga korban pelanggaran HAM dari peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, penculikan 1997/1998, dan Trisakti 1998. Tampak pula bersama mereka Suciwati, istri aktivis HAM almarhum Munir, dan Koordinator Kontras Usman Hamid.

"Atas nama kemanusiaan, kami ke sini adalah ingin mendoakan Soeharto supaya segera sembuh," sambung Suciwati yang mengajak anaknya, Alif, ikut serta kemarin.

Menurut Suciwati, segala dalih untuk memaafkan Soeharto karena sakit yang dideritanya saat ini bukanlah bentuk kemanusiaan. Jika dihadapkan pada nasib yang diderita para korban Soeharto di masa lalu, upaya tersebut sama saja dengan menghapus segala upaya yang dilakukan anggota keluarga korban pelanggaran HAM. "Kemanusiaan yang hakiki adalah kebenaran dan keadilan. Karena itu, kebenaran dan keadilanlah yang tetap harus ditegakkan di dunia ini, bukan menutupinya, " tegasnya.

Bejo yang memimpin kunjungan itu menceritakan, dirinya menderita akibat perampasan HAM sejak semasa muda. Saat itu, kata pria yang kini berusia 60 tahun tersebut, tanpa alasan yang jelas, dirinya yang bergabung dalam Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia dijebloskan ke penjara selama sembilan tahun. "Saya dipenjara selama sembilan tahun tanpa alasan yang jelas dan juga tanpa pengadilan yang memutuskan apa pun," ungkapnya.

Oleh karena itu, Bejo yang juga menjabat ketua Yayasan Penelusuran Pembunuhan 65 tersebut menilai permintaan maaf yang dialamatkan kepada Soeharto sangat tidak beralasan dibandingkan dengan penderitaan yang dia alami dan ribuan warga lainnya. Kondisi sakit yang dialami penguasa Orde Baru itu tidak boleh menjadi dalih pemerintah untuk menghentikan proses hukum yang belum menemui kejelasan. "Memaafkan itu urusan nanti, setelah pemerintah melaksanakan proses hukum," tandasnya.

Di tempat yang sama, Koordinator Kontras Usman Hamid menyatakan, kondisi yang dialami Soeharto seharusnya menjadi penggerak bagi Komnas HAM, DPR, presiden, dan jaksa agung untuk segera melakukan proses hukum atas semua peristiwa pelanggaran HAM di bawah tanggung jawab Soeharto. "Pemerintah harus menegakkan komitmennya bahwa segala proses hukum harus dilakukan kepada siapa pun dengan tetap memperhatikan asas praduga tak bersalah dan hak-hak asasi manusia," ujar Usman.

Menurut dia, pemerintah harus tetap dalam koridor objektif dalam melanjutkan kasus hukum yang dialamatkan kepada Soeharto. Dalam hal ini, pemerintah tidak boleh menghiraukan pendapat-pendapat sekelompok pihak atau individu yang ingin memaafkan Soeharto karena sakit. "Harus dilihat apakah pertimbangan jasa yang dilakukan Soeharto sebanding dengan pelanggaran HAM yang dilakukan," katanya. Usman juga menyebut, jika Soeharto meninggal, proses hukum bisa dilakukan secara in absensia. )

Sumber: Jawa Post

Minggu, 27 Januari 2008

Kematian Paman Gober/nyambung crt Mas Seno

Akhirnya hari yang ditunggu – tunggu datang juga . Hari kematian Paman Gober yang sangat ditunggu – tunggu itu. Ditunggu oleh saya dan kami penduduk kota Bebek. Di hari itu tidak ada media yang tidak meliput kematian Paman Gober. Ada media yang menyanjung – nyanjung tapi ada juga media yang menyanjung jasa – jasa beliau dan tak lama membuka borok – boroknya

Saya sendiri, satu dari sekian penduduk kota Bebek yang mengharapkan kematiannya turut mendengar dan menyaksikan ” keramaian ” seputar berita orang yang terkaya di kota Bebek.

Di televisi saya juga melihat bagaimana anak – anak Paman Gober penuh dengan kesedihan, menangis seraya menghiba , memohon maaf atas kesalahan – kesalahan Paman Gober dan tak lupa meminta kami juga turut mendoakannya. Sayang sekali saya tak punya naluri jadi saya bengong – bengong saja , tanpa kesedihan apalagi kehilangan. Tidak menangis seperti tetangga saya yang dulu pernah jadi bodyguard anak bungsu kesayangan si Paman Gober.

Di televisi pula saya menyaksikan berkumpulnya dinasti Paman Gober. Ada anak – anaknya, mantu, besan, para cucu dan tak ketinggalan para kroni sekalian . Anak – anak yang disayanginya itu semua nampak bersedih . Entah sedih belum kebagian proyek , harta warisan atau sedih beneran. Saya tidak tahu, yang saya tahu cuma kelakuan anak – anak Paman Gober yang tak tahu malu. Memalukan si bapak sendiri juga memalukan diri dan dinasti.

Paman Gober akhirnya mati juga. Apakah dengan kematiannya berakhir dinastinya ?, mudah – mudahan saja. Tapi saya juga tidak merasa yakin karena masih ada generasi setianya, yang akan terus meneruskan cita – cita ingin terus mengeruk semua kekayaan kota Bebek dengan cara lama . Yaitu memanipulasi penduduknya dengan retorika keadilan, pembangunan, pemerataan dan persamaan dimata hukum.

Sejak sakitnya si Paman saja, kalangan keluarga maupun para mantan dan pendukung setianya sudah banyak melakukan usaha gembar – gembor lewat berbagai media. Menceritakan, mewartakan akan jasa – jasa Paman Gober terhadap negeri yang entah kapan makmurnya ini. Menyanjung – nyanjung kesetian Paman pada sang isteri dan juga kecintaan beliau pada keluarga . Mengarang ini dan itu agar tercipta keseragaman image bahwa karena Pamanlah kota Bebek jadi maju, makmur dsb.

Wauarakadabrah!!! ( kayak Pailul nya Panji Koming ) Saya pikir – pikir Paman Gober ini memang patut juga jadi tokoh sejarah. Saya patur mengenangnya. Mengenang kepemimpinannya yang juga telah memporak porandakan tatanan hukum, keadilan dan demokrasi di kota Bebek.

Kamis, 24 Januari 2008

Jalan - Jalan

Kalo denger kata jalan – jalan pasti yang terbayang di kepala saya itu gak jauh dari yang enuak – uenak. Jalan – jalan yang saya maksud disini sama halnya dengan rekreasi . Cuci mata dengan melihat – lihat yang bisa bikin mata, hati mak nyesss dan bibir ini serasa mau tersenyum seikhlasnya terus dan terus. Jadi jalan – jalan yang saya maksud itu ya yang ada hubungannya dengan senang – senang saja, just having fun tanpa beban gitu lo. Beban pekerjaan, beban moral dan beban rutinitas lainnya. Kedengarannya enak ya ?, ya iya lah ! baru dengernya aja enak apalagi ngelakonin pasti tambah uenak.

” Enak – sih enak Sar tapi itu kan gak gratis, kudu punya persiapan ini –itu terutama duit yang banyak ato ga minimal cukup buat ongkos dsblah ” !, kata teman saya nyeletuk .Lha nggak juga la yaw. Kalo jalan - jalannya kayak anggota DPR buat studi banding, atau gak perjalanan dinasnya para birokrat di Departemen selain gratis juga dapet duit . ” Ya enggak lah Sar , mereka kan emang dalam rangka kedinasan . Kan tujuan mereka juga untuk kebaikan negara ini” . ” Wajar kalau negara memfasilitasi mereka ini dan itu , mereka sudah bekerja dan berpikir untuk negara ini ”. Kembali teman saya yang baik hati itu mengeluarkan prasangka baik yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

O wualllahh #?*?$# !, maafkan saya ya. Saya memang warga negara yang tidak tahu diri Cuma bisa protes nuntut ini dan itu. Tapi saat saya sedang ngomong soal jalan – jalan, saya itu sedang kepengen kumat edannya . Karena edannya saya, opongan saya ya suka – suka saya. Semoga teman saya yang memang aselinya baik itu tidak ikutan edan estela mendengarkan ocehan saya yang ngawur dan ngalor - ngidul
.

Jadi yang saya maksud anggota DPR dan birokrat itu, ya saya sendiri. Sayalah yang memerankan dua lakon itu. Karena dari awal saya itu ndableg, gendeng dan bebal ya begitu jadi lelakon DPR dan birokrat mental karakter saya tetap saja nduablegg!.

Jadi jangan heran jika, dengan alasan studi banding atau menijau ini dan itu saya bisa mlancong keberbagai daerah. Saat lakon birokrat, diminta atau tidak saya akan sesering mungkin minta SPPD ( Surat Perintah Perjalanan Dinas,). Dengan SPPD yang benar maupun yang fiktif, dompet saya bakalan penuh duit buat modal jalan dan senang – senang. Senang – senang di dalam maupun luar negeri. Saya juga senang jadi lakon PNS. Jadi PNS biar ga bisa bahasa asing dan cuma modal bantu 2 fotocopy sama bawain tas kopor/barang2 bos , saya sudah bisa jalan 2 ke LN kok.

Lakon – lakon saya itu semuanya enak – enak . Memang saya hidup itu untuk mencari yang enak – enak. Termasuk cari lakon dalam berperan di negeri Republik Dongeng.

Minggu, 13 Januari 2008

Sekaratnya Suharto

Minggu – minggu ini tiada harian tanpa berita tentang Suharto. Bekas orang nomer satu di negara ini tengah sekarat. Walaupun dia bekas presiden dinegeri ini, tiada satu pun sepak terjang dia yang membuat gue menaruh rasa hormat, bangga apalagi cinta, no way.

Saat tubuh renta, tak berdaya dan rohnya kesulitan untuk meninggalkan raganya saja gue ga merasakan kesedihan apa – apa. Gue ga punya hubungan emosional sama bekas ditaktor berwajah bijak dan pemurah dalam menyebar senyum palsu itu. Kalau ada yang mengajak berkomentar seputar Suharto, istananya, apalagi anak – anak dan kroninya, gue paling suka menjawab” emang gue pikirin, peduli setan, dia bukan siapa – siapa gue”.

Gue ngerasa selama ini gue yang masuk level org – org yang gak gablek, sdh gak sempet mikirin si Raja, kroninya, pemerintah sekarang maupun yang akan datang, boro – boro...mending gue mending cari rejeki halal , dagang apa aja yang penting kagak jual kehormatan dan harga diri dengan membungkuk – bungkuk ( denger – denger para konglomerat/pengusaha gede suka memohon 2 dan bungkuk – bungkuk buat dapetin rangkaian regulasi yang menguntungkannya,..sst gosip ) sambil mikir sukur – sukur harga bahan pokok bisa turun, kali – kali aja margin keuntungan gue gak terus – terusan kalah sama tingginya inflasi dan turunnya nilai rupiah.

Kadang gue yang bego ini, yang ga tahu ilmu tentang ketatanegaraan dan pemerintahan suka nyeletuk dikala para komentator 2 ( baik yang pro pemerintah dan kontra ) , yang berbla 3x, negeri dan rakyat ini da bosen dengan komentar dan jargon 2 palsu, kita bisa hidup kok tanpa ada si Bos 2 itu, emang pemerintahan, pemerintah dan aparatnya, kebijakkan 2nnya itu fungsinya buat apaan sih ?, gue ga ngerti.

Selasa, 01 Januari 2008

Parodi Diri

Taun baru neeh !. Dimana - mana hampir semua ngucapin selamat untuk kedatangan ..mahluk ini, tak terkecuali saya. Saya ikut mengucapkan basa- basi ini kebeberapa orang yang saya benar - benar saya kenal maupun cuma kenal begitu saja. Saya cuma mengekor, ikut - ikutan kaidah yang sudah umum. Munafikkah ? jawabannya ya terserah anda, munafik memang pakaian saya, yang penting topeng kepura - puraan ini ga ada yang tau, kecuali Tuhan dan diri kita sendiri .

Bersikap palsu, lain di hati lain dibibir, penuh dengan basa - basi bukankah itu sikap keseharian kita, maaf saya maksudnya. Lha wong saya sudah tidak terhitung berapa banyaknya saya tersenyum palsu, memuja palsu, dan berbuat palsu. " Lho, Sar memang kita hidup di zaman yang serba palsu, jadi kita harus berpalsu - palsu", itu kata teman saya memberi dorongan atas sikap palsu saya ." Tapi kamu sebaiknya pilih - pilih orang dalam berpalsu", maksudnya: dengan atasan kita harus berpura - pura rajin bekerja, rajin memuji dan rajin menjilat, jika teman gaul kita itu orang berpunya, berlevel, punya status dan berpenghasilan ok, kita malah dituntut untuk lebih over dalam berpalsu. Kata teman saya lagi untuk mendapatkan jejaring dan kesempatan ( kesempatan apa aja lah ! ) sikap berpalsu ria itu amat perlu.

Jadi apa hubungannya dengan tahun yang silih berganti, lha saya tetap saya yang lama, manusia yang itu - itu juga, beramal palsu, solat palsu, soleh palsu, ramah, anggun sampai sikap sederhana dan rendah hati yang saya tampilkanpun palsu.Waktu berlalu dari waktu - kewaktu yang cuma menghasilkan manusia - manusia yang gak bermutu, ya manusia macam saya ini.

Selamat Tahun Baru ( yang ini semoga tidak palsu ) saya ucapkan hanya kepada dunia yang mungkin sudah bosan dengan sikap palsu, pendefinisian, pengkotakkan, kategorisasi dari semua waktu - waktu yang tlah berlalu tidakkah menuju kesesuatu yang baru ?, ya..saya ga tau jawabannya. Lha saya juga sudah mumet karena terus berpalsu