Kadang pikiran saya ini terasa kosong atau entah terbang kemana saat memikirkan makna substansi kata jujur/kejujuran.Saya, anda dan kita pasti sudah tak asing lagi dengan kata yang satu ini.Buat saya yang tidak punya kompetensi dibidang kebahasaan, tentu tidaklah tepat untuk ber bla - bla mendefinisikan kata jujur, sejatinya sih saya teringat pada apa yang pernah dikatakan oleh Socrates bahwa untuk memahami sesuatu kita harus terlebih dahulu mengetahui defenisi dari apa yang akan kita bahas/kaji, buat saya itu benar sekali Bpk Socrates namun apadaya, saya yang hanya memiliki tingkat kecerdasan minim tidaklah mampu untuk memberi defenisi leterlegh atas kata jujur atau jujur yang diberi awalan ke dan berakhiran an.
Saya hanya sedang mencoba untuk lebih mengerti apakah saya itu sudah berhasil memahami arti hakiki dari kata jujur itu sendiri ( yang ternyata terdapat lebih dari satu defenisi ) lalu apakah saya sudah bisa menarik nilai universal yang tersirat dibenang merah dalam defenisi - defenisi jujur ?. Nurani saya mengatakan saya tahu apa itu dan bagaimana itu jujur. Tapi sejujurnya saya belum sepenuhnya mengaplikasikan kejujuran didalam menjalani hidup.
Di saat saya terjun didunia yang hidup ini, berbohong buat saya sudah menjadi semacam tradisi, dulu saat hampir seluruh orang tua dibumi ini menuntut nilai akademis yang bagus dari anak -anaknya, si anak jadi sering berusaha terus untuk dapat nilai bagus walau dengan cara berbohong atau menipu diri sendiri, dan ortupun percaya kalau anak - anaknya hebat, pintar dsb, dsb. Si anakpun bangga dengan nilai - nilai bohongnya.
Kemudian saya yang termasuk dari bagian anak - anak itupun mulai masuk kedunia kerja, yang ternyata sama saja. Sama dalam hal menuntut untuk berbuat dusta selanjutnya. Berbohong dengan client, atau pihak manapun yang ingin menemui bos adalah hal yang sering saya, kita dan mungkin anda lakukan disa'at - sa'at sang bos ogah menemuinya. Berbohong ternyata sudah menjadi bagian dari hidup saya dan mungkin juga anda, dan banyak dari kita memberi pembenarannya. Oh, kalau berbohong demi kebaikan tidak apa - apa, itu seperti yang kita sering katakan untuk menentramkan hati kecil yang sudah berdusta, siraman menentramkan yang senantiasa kita buat untuk mengabsahkan segalanya, siraman sejuk yang akhirnya malah membekukan hati kita.
Karena bekunya hati saya, anda dan kita maka ringan dan mantaplah bagi kita untuk terus melangkah kedusta - dusta selanjutnya yang lebih dasyat, yang selalu akan kita lakukan karena akan mendapatkan keuntungan materi dan nilai financial yang bisa saja bernilai tak terhingga. Berbuat licik, menipu, menjarah harta yang bukan hak kita atau bahkan nepotisme buta dan membunuh akses/kesempatan orang lain yang sama - sama punya hak seperti kita menjelma menjadi dusta biasa.Tak mengapa toh untuk kebaikan saya, anda dan kroni - kroni kita.Semakin hari aku semakin terbiasa, tak lagi bingung ini dusta "putih, hitam, abu abu atau merah, kuning, hijau di bumiku ini.
Kejujuran, mahluk apakah engkau ? , aku hanya menuntut orang lain untuk jujur kepadaku, begitu lantangnya aku menyuarakan kejujuran untuk orang lain tapi bukan untukku. Aku bersembunyi dan menutup hati. Aku ....takut padamu.
Rabu, 26 Desember 2007
Essay Untuk Tikus dan Cecunguk
Diposting oleh
sari
di
16.57
Label: Opini Bebas
Rabu, 14 November 2007
Kebahagiaan Ala " Zoroaster Wardoyo "
Kebahagiaan
Akhir-akhir ini kita sering mendengar kisah-kisah, meski tidak unik tetapi menarik, yang menampakkan paradoks kehidupan. Ada kisah-kisah perkawinan penuh senyum berdampingan dengan perceraian dalam dendam. Ada kisah lahirnya anak selebritis diiringi sukacita berbarengan dengan berita mayat-mayat bayi di tumpukan sampah. Ada juga kisah kenikmatan seks rombongan beriringan dengan cerita tangis kepasrahan penggemar Arifin Ilham atau Pendeta Lumoindong. Ada kisah mahamurah Bunda Teresa beriringan dengan cerita kebengisan George W. Bush. Betapa riuhnya dunia tempat kita tinggal. Penuh pertentangan. Seribu satu kelakuan muncul dari mahluk berjenis manusia. Dari tujuh not nada bertunaslah jutaan lagu. Mungkin itulah yang menjadi alasan Socrates (470-399 SM) lebih suka membincangkan soal manusia daripada alam semesta seperti yang dilakukan filsuf-filsuf Yunani sebelumnya. Kalau boleh berspekulasi, semua yang dilakukan manusia, entah diakui atau tidak, adalah upaya memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan.
Setiap orang ingin bahagia. Itu pasti. Manusia berupaya mengalami kebahagiaan. Ada yang percaya bahwa kebahagiaan bisa dicari dalam harta. Orang bekerja keras membanting tulang, mengumpulkan uang, atau menipu untuk memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. Kekayaan dianggap puncak yang harus dicapai untuk menikmati matahari terbit yang indah. Semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagialah ia. Ada pula yang percaya sebaliknya; meninggalkan harta adalah sumber kebahagiaan. Ada orang yang menanggalkan semua hartanya, tidak bekerja, dan pergi ke tempat-tempat sunyi menjadi pertapa. Kekayaan dianggap jurang gelap nan dalam dan bisa membinasakan kebahagiaannya sebagai manusia fana. Semakin sedikit kebutuhan akan kekayaan, semakin bahagialah ia. Benarkah kebahagiaan ada atau tidak ada dalam sesuatu di luar diri kita, ataukah ia berada dalam diri kita dan menunggu untuk ditemukan? Kebahagian merupakan tujuan akhir dari segala upaya yang dilakukan manusia. Kebahagian berharga pada dirinya sendiri. Ketika orang sudah mencapai kebahagiaan, yang lain menjadi tidak perlu lagi. Tapi apa sebenarnya kebahagiaan itu?. Apakah Filsafat mampu menjawabnya ?
Dalam filsafat membincangkan tema bahagia/kebahagiaan adalah sebuah tema yang sudah sekuno filsafat itu sendiri. Para filsuf, mulai dari Budha, Socrates, hingga Kierkegaard mencari kebahagiaan. Begitu pula saya, teman saya, sepupu saya, dan Anda. Saya punya teman. Dia cantik, pintar, memraktekkan agamanya, dan gaul. Tidak sedikit teman laki-laki yang mendekatinya. Ada juga yang langsung mengajaknya menikah. Dia belum bergeming dan tidak memilih salah satu. “Kenapa pilih-pilih begitu?” tanya saya suatu kali. “Tidak adakah satupun dari mereka yang memenuhi kriteriamu?”. Ada yang sudah mapan, bekerja di suatu bank ternama di Bandung. Ada juga seorang ahli teknik di Danone-Aqua. Dia ingin masa depan yang bahagia. Tentu saja. Semua orang juga ingin. Dia percaya kebahagiaan bisa diperoleh dari keluarga yang harmonis, suami yang setia, anak yang baik, penghidupan yang layak, dan mertua yang tidak cerewet. Dia percaya kebahagiaan ada di ‘luar sana’; di luar dirinya.
Bila kita cermati semua ajaran agama dan filsafat yang pernah mampir ke dunia ini, maka kita akan menemukan bahwa kebahagiaan tidak ada ‘di luar sana’ secara murni. Ada andil dari pemahaman kita sendiri tentangnya. Socrates, misalnya, bilang bahwa kebahagiaan adalah keadaan ketika kita mencapai diri yang sempurna. Kesempurnaan ini diraih dengan mencapai pemahaman akan ‘yang baik’; dan kita mencapai ‘jiwa yang baik’ (eudaimonia). Eudaimonia sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan; kebahagiaan dalam arti luas; keadaan jiwa manusia yang melampaui perasaan subjektif seperti senang atau gembira.
Bagaimana kebahagiaan ini tercapai? Sekali lagi Socrates menjawab: “Dengan memiliki keutamaan berupa pengetahuan tentang ‘yang baik’”. Keselarasan antara mengenal dan berperilaku baik merupakan jalan satu-satunya mencapai kebahagiaan. Teman saya langsung ngotot. “Tidak; tidak mungkin benar. Buktinya para pejabat itu tahu bahwa orang miskin itu sengsara, tapi tetap saja mereka menerapkan kebijakan yang menyengsarakan orang miskin!” Ya, teman saya benar juga. Banyak orang tahu tentang ‘yang baik’, tapi mereka tidak menerapkan dalam kehidupan mereka. Mereka tahu bahwa menipu bukan ‘yang baik’, tapi mereka melakukannya. Keberatan seperti ini ada benarnya, tetapi maksud Socrates dengan ‘mengetahui yang baik’ adalah mengetahuinya secara eksistensial, bukan secara teoritis. Artinya, ‘mengetahui’ itu melibatkan seluruh aspek dan dimensi kepribadian manusia. Contoh dalam kartun adalah ketika tokoh digambarkan dinaungi awan berisi bola lampu dan diriingi suara ‘ting!”. Orang yang bahagia adalah orang yang tahu tentang ‘yang baik’ dan berusaha mencapainya sesederhana apapun. Jadi, kebahagiaan berada di dalam diri kita sekaligus berada di ‘luar sana’. Orang yang bergantung pada sesuatu ‘di luar sana’ untuk bisa bahagia, rasanya tidak akan pernah bahagia karena tidak semua yang ‘di luar sana’ bisa kita miliki.
Meski Socrates tidak punya sekolah, banyak orang yang kemudian mengaku sebagai muridnya dan menyatakan bahwa mereka menjalankan filsafatnya. Dua di antara yang terkenal adalah Kaum Sinis dan Hedonis. Suatu hari Socrates sedang jalan-jalan di sudut Athena diikuti beberapa orang ‘muridnya’. Ketika melewati sebuah toko kelontong, Socrates berucap: “Hmm, ternyata banyak nian yang tidak aku perlukan”. Ucapan sinis inilah yang membuat Diogenes dari Sinope (412-323 SM) menerapkan ajaran “dengan sesedikit mungkin material yang dibutuhkan, maka kita akan mencapai kebahagiaan”. Diogenes yang juga dikenal sebagai Diogenes dalam Tong, konon pernah dikunjungi oleh Alexander Agung. Sang Kaisar bertanya: “Dio, adakah yang engkau inginkan dariku?”. Dari dalam tongnya, Diogenes menjawab, “Ya, bergeserlah ke samping, Anda menghalangi cahaya mentari”. Antisthenes (?), seorang dari filsuf Sinis pernah bilang: “Aku takut pada harta-kekayaan karena ia menciptakan ketidaksetaraan; ketaksetaraan menimbulkan kecemburuan; dan kecemburuan memunculkan kebencian; dan kebencian menurunkan derajat kemanusiaan manusia.” Bagi Diogenes dan kaum Sinis lainnya, keterikatan pada barang-barang materi telah merusak kealamiahan manusia dan karenanya menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kelepasan dari ketergantung terhadap sesuatu ‘di luar sana’; terutama materi. Sepanjang hidupnya konon Diogenes cuma punya satu mantel, tongkat, kantong roti, dan tong tempat tinggal.
Pendapat bersebrangan datang dari orang yang juga mengaku sebagai murid Socrates, yaitu Aristippus (435-355 SM), filsuf dari Kyrene, Afrika Utara. Socrates pernah mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan diperoleh dengan mengetahui ‘yang baik’. Filsafat adalah upaya untuk mengetahui ‘yang baik’ tersebut. Oleh Aristippus ‘yang baik’ diterjemahkan sebagai ‘yang nikmat’. Segala sesuatu yang nikmat bagi tubuh adalah baik. Orang bahagia adalah orang yang mengupayakan kenikmatan dalam hidupnya. Mengejar kenikmatan merupakan upaya (actus) yang dilandasi oleh pemahaman tentang yang nikmat (praxis). Rasio manusia bertugas untuk memperhitungkan pemaksimalan kesenangan dan peminimuman kesusahan (badani). Kalau kita pikir-pikir, bisa jadi pemikirannya benar. Selama ini tidak sedikit orang yang mengupayakan kenikmatan badani dengan mengumpulkan kekayaan, lalu membelanjakannya untuk makanan lezat, minuman enak, seks, tamasya, atau ke spa. Orang berlomba-lomba memperoleh kenikmatan. Bahkan barang terlarang pun dibeli jika itu memberi kenikmatan. Tetapi apakah benar kebahagiaan bisa diperoleh dari itu semua? Jawabannya jauh dari abad ke-19 di Denmark. Søren Kierkegaard (1813-1855), filsuf eksistensialis itu bilang “ya, bisa”. Kenikmatan badani atau oleh Kierke disebut sebagai kenikmatan estetik merupakan satu dari beberapa sumber kebahagiaan manusia. Tetapi, kenikmatan estetik itu sifatnya sangat terbatas. Selagi sumber kenikmatan itu ada, maka bahagialah ia. Sumber kenikmatan seperti tamasya, minuman enak, makanan lezat, tidak bertahan lama. Ketika tubuh sakit, maka lenyaplah segala kenikmatan itu. Ketika tidak lagi mempunyai uang untuk membeli ‘kebahagiaan’ itu, sengsaralah kita. Selain itu, kita akan selalu mencari dan terus mencari lagi sesuatu yang baru dan dianggap menyenangkan. Intinya, ketergantungan kepada sesuatu di luar diri; apalagi berupa materi, bukanlah sumber kebahagiaan sejati.
Kembali ke ajaran kaum Sinis, maksud ajaran mereka tentang ketidakterikatan pada materi pada intinya bukan berarti kita tidak boleh mempunyai dan menikmati materi; tetapi tidak terikat dengan yang kita punyai tersebut. Dalam ajaran agama mungkin ini yang disebut ikhlas. Semuanya milik Allah. Semua ada dan tiada karena Allah. Ketika kita terikat, maka sama saja seperti kita melekatkan stiker ke betis. Cabutlah stiker itu, maka sakitlah betis kita karena ada yang tercerabut, yaitu bulu. Nabi Muhammad saw , nabi Islam dari Arab, konon pernah bilang: janganlah mencintai atau membenci seseorang (juga sesuatu) seratus persen. Cukuplah lima puluh persen saja. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi orang yang paling kita cintai menjadi orang yang paling membuat kita menderita; dan sebaliknya.
Aristoteles (384-324 SM), salah seorang murid Plato yang terkenal, mengajukan pendapat bahwa kebahagiaan adalah tujuan terakhir hidup manusia. Apabila kita sudah bahagia, maka kita tidak memerlukan apa-apa lagi. Kalau sudah bahagia, tidak masuk akal jika kita masih mencari sesuatu yang lain. Kebahagiaan itulah yang baik dan bernilai pada dirinya sendiri. Berkaitan dengan kenikmatan estetik di atas, keterbatasan sumber kenikmatan dan efek terus mencari ‘yang lain’ untuk bisa bahagia menunjukkan bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari kenikmatan badani bersifat semu. Ketika ketika percaya bahwa kita akan bahagia dengan mempunyai sebuah mobil mewah, maka ketika kita tidak memilikinya maka kita akan sengsara. Itu namanya kebahagiaan bersyarat. Rumusnya adalah: bila ada X maka bahagia. Ketergantungan pada X, sesuatu yang kita anggap membahagiakan, justru bagi Budha Gautama adalah sumber kesengsaraan. “Keinginan adalah sumber penderitaan”, ajar Budha pada muridnya Kasyapa (Kalimat ini pernah menjadi sepenggal lirik lagunya Iwan Fals).
Lalu, jika kebahagiaan tidak kita gantungkan pada sesuatu ‘di luar sana’, apalagi berupa kenikmatan materi, apa yang mesti kita lakukan? Apakah kita akan mengikuti Budha dengan cara melenyapkan keinginan? Bila sumber kebahagiaan berada dalam diri kita sendiri, bagaimana kita memunculkannya? Apakah dengan mengetahui sebanyak mungkin hal dan menganalisisnya untuk menemukan ‘kebahagiaan’ kita sendiri? Tetapi dengan semakin banyak tahu, bukankah kita akan semakin punya banyak pertanyaan; dan setiap pertanyaan adalah kegelisahan dan tidak akan menentramkan?
Ada satu novel Jepang. Oleh kawan saya dianggap bukan karya sastra bermutu. Judulnya Musashi, karya Eiji Yoshikawa. Dalam novel tersebut Musashi, tokoh utamanya, mengalami perubahan yang cukup radikal sepanjang perjalanan hidupnya. Perubahan tersebut dipicu oleh perubahan-perubahan cara pandangnya tentang berbagai hal; terutama pandangannya tentang diri dan hidup yang dijalani. Ia ingin mengikuti “Jalan Pedang” untuk mencapai kebahagiaan. Mulanya dia beranggapan bahwa menjadi yang terkuat akan menghantarnya menuju hidup bahagia. Dia lewati jalan hidupnya dengan menantang hampir semua jagoan pedang. Beberapa perguruan dikalahkannya. Namun, perjumpaan-perjumpaannya dengan berbagai orang dan peristiwa yang mengajari hidup dan kehidupan telah menghantarnya pada pemahaman bahwa Jalan Pedang sejati adalah kemampuan tidak menggunakan pedang dalam pertarungan dengan lawan; dan lawan yang paling tangguh adalah diri sendiri. Oleh karena itu, hidup bahagia bisa dicapai dengan menerapkan perilaku rendah hati, kejujuran, dan mengikuti alam.
Mungkin semua kesimpulan Musashi terdengar klise dan biasa-biasa saja karena kita sudah tahu semua itu dari pelajaran agama dan pendidikan moral yang kita dapat sejak kita kecil. Tetapi, pengetahuan kita tentang hal tersebut masih bertaraf ‘pengetahuan teoritis’. Pengetahuan teoritis akan ‘yang baik’ tidak serta merta membuat kita berperilaku ‘baik’. Buktinya berapa puluh kali para pejabat negara kita mengikuti Diklat yang pasti salah satu kuliahnya adalah tentang moral Pancasila. Nyatanya negara kita adalah negara terkorup di Asia Tenggara. Jadi, yang penting justru bukan kesimpulan itu sendiri, tetapi bagaimana orang mengetahuinya secara eksistensial lewat seluruh hidup yang dijalani; lewat kisah-kisah yang dialami. Ada sebuah pepatah: “pengalaman adalah guru terbaik”. Pepatah ini tidak keliru, tetapi hanya separuh benar. Hanya pengalaman yang diolah, dipikirkan, dan dihidupi saja yang bisa menjadi guru terbaik sehingga, sebenarnya, kitalah guru terbaik itu sendiri. Olah karena itu Socrates berpesan: “Hidup yang tidak pertanyakan adalah hidup yang sia-sia”.
Jangan bergurau Pak Socrates! Kalau kita selalu mempertanyakan hidup ini, kita akan kebanjiran pertanyaan yang mau tidak mau akan mengurangi kesempatan kita menikmati hidup yang singkat ini! Bukankah memusingkan untuk menjawab dari pengalaman sendiri “untuk apa hidup?”? Lebih baik kita copy-paste saja jawaban yang sudah ada. Misalnya jawaban ustad terkenal atau dari buku orang sukses. Bisa juga dari buku-buku panduan manajemen (qalbu, emotional & spiritual quotien, dkk.). Atau, mungkin lebih baik tidak usah ditanyakan saja. Hidup kita singkat pak !. Belum lagi berbagai kesibukan seperti kerja, belanja, masak, baca, nonton, kongkow dllnya.
Kadang saya berpikir, betapa nyamannya menjadi domba. Tidak perlu sekolah, kerja cari uang, dan bersosialisasi ini itu . Si domba lahir dan menyusu pada ibunya, lalu setelah beberapa minggu ia belajar mencari makan. Dia belajar memilih rumput yang enak supaya sehat dan gemuk. Dia belajar mengunyahnya sesuai tradisi. Ketika sudah ahli mencari rumput dan mengunyahnya, domba itu belajar juga mencari pasangan kawin dan ‘menikmati’ seks. Mula-mula ditolak. Tapi lama-lama dapat juga. Domba pun kawin dengan domba betina pilihannya. Istrinya hamil dan melahirkan anak. Anaknya beranjak remaja dan sudah bisa mencari makan sendiri. Kini si domba sudah dewasa dan menjelang ajal, entah dijagal untuk dimakan dagingnya atau mati karena penyakit. Sejak dijinakkan 10.000 tahun lalu, mungkin hampir semua domba menjalani hidupnya seperti itu. Mereka menjalani hidup seadanya. Hidupnya mengalir; benar-benar mengalir seperti air sungai . Tidak pernah berhenti dan merenung sejenak. Tidak ada “pengalaman”, tidak pula pertanyaan. Begitu tentram hidupnya. Begitulah cara domba saya mengalami ‘kebahagiaan’.
March 2nd, 2006 komunitas filsafat tamanbunga
Minggu, 11 November 2007
Popularitas Koboi Bush
Bisa dipastikan 3/4 dari jumlah penduduk dunia ini mengenal George W Bush. Di AS saat ini popularitasnya tengah merosot. Selain ga ngebuat AS tambah kaya secara itung - itungan ekonomi, yang ada duitnya si Uncle Sam malah diabisin buat adu kebegoaan dengan agresi sani - sini. Menurut hasil polling salah satu institusi riset yaitu Gallup Poll menunjukkan bahwa popularitas Bush-uk saat ini merosot tajam, hasil riset menujukkan bahwa dia adalah presiden AS terburuk sepanjang sejarah moderen Amerika.
Hasil polling yang diumumkan pekan ini menujukkan hasil 64 % warga AS tidak menyetujui cara kerja presidennya ( 2/3 warga berpikiran bahwa Bush+uk tidak mempunyai kompetensi ).Tingginya tingkat kejelekan reputasi Bush+uk itu ternyata mampu mengalahkan rating reputasi presiden AS sebelumnya yaitu Richard Nixon ( skandal Water Gate ), dimana 48 % warga AS tidak mendukungnya.
Presiden bermental preman ini dianggap cuma bisa ninggalin warisan kesialan, karena presiden AS yang kelak akan menggantikannya harus menanggung beban dari berbagai masalah akibat kebijakan politik yang sudah diambil oleh koboi bloon Bush+ uk ini seperti masalah Irak, Afganistan dan Guantanamo .
Ekonom level dunia Joseph E Stiglitz dan Pengusaha Kondang AS pun ternyata juga urun sumbang dalam mengomentari perihal Bush dengan menuliskan; "bush adalah presiden AS terburuk sepanjang sejarah, mereka memberikan penilaian itu berdasarkan kinerja Bush dibidang ekonomi.
Disadur bebas dari Kompas 11/11/07, Reuters/AP/AFP )
Diposting oleh
sari
di
19.25
Label: Cerita Bebas
Jumat, 09 November 2007
Anak Orang Gedean
Jika anak orang berada, pintar ini dan itu, punya banyak akses untuk kerja disana dan disitu, buat gue itu satu hal yang biasa malah ga ada kejutannya alias biasa saja. Jika anak orang berada,pintar ini dan itu,punya banyak kesempatan dan akses disana disini tapi mudah stress itu biasa dan...biarkan saja. Mereka tak mengenal susah apalagi menderita, yang terhampar di depan mata hanya kemudahan demi kemudahan. Kerikil kecil baginya besar, mudah merengek minta fasilitas ini dan itu. Ha 3x, jago kandang dan hanya tau kompetisi semu.
Jika anak orang berada yang kekayaan bokap dan maknya entah dari mana, gak jelas asal usulnya, lebih suka ngebanggain kedudukan dan kehormatan semu ortunya...itu mah biasa aja atuh !, gede tapi bodong, pintar dari segi inteleknya tapi masih perlu dipertanyakan kepekaan sosial dan mentalitas ketangguhannya. Wauaahaaa 3x kasian sekali.
Jika anak penggede jadi birokrat atau politisi karena keturunan lantas berulah yang memalukan ,....itu mah! bukan hal yang luar biasa lagi tapi emang biasa. Korup, manipulasi proyek ini - itu, itu mah....wajar - wajar aja. Itu belum seberapa yang lebih yahud mereka itu biasa tampil sempurna dan rakyat pun jadi terpesona. Bayangkan saja begitu mereka selesai merampas akses rakyat diluar kekroniaannya dan membunuh sumber mata pencarian jutaan rakyat yang bukan geng nya, mereka bisa dengan mudah menampilkan wajah bijak sambil tersenyum memikat . Hi 3x buat gue mereka cuma badut - badut intelek yang lucu.
Jangan pertanyakan kadar nasionalisme mereka, lha wong menjual negara sendiri saja penuh dengan suka cita , lha kan yang masuk keperutnya, yang sudah membesarkan dan menyekolahkannya adalah uang negara yang tanpa rasa dosa sudah ditilep ortunya . Uang haram yang sudah mendarah daging, kualitas didikan yang diterima dari kedua orangtuanya sudah membentuk kepribadian dan mentalitas anak mami - papi sedemikian rupa ...hi 3x bukankah itu proses internalisasi penanaman nilai - nilai amoral yang berhasil ?
Jika anak - anak penggede itu melakukan tindakan melawan hukum dan nilai nilai keadilan namun selalu bebas dari sentuhan hukum( karena ortunya juga selalu lolos dari jerat hukum) dan selalu dapat melenggang bebas tanpa beban malu dan perasaan berdosa,...sama aja itu juga ga ada anehnya. Pikir - pikir.....uenak sekali ya ?
Jika bangsa yang mayoritas ini masih mau dikuasai oleh para penguasa yang lahir dan besar dilingkungan yang tak pernah merasakan betapa sulitnya kehidupan rakyat jelata, yang sudah sedemikian kerja kerasnya namun tetap saja kemakmuran masih sangat jauh dari jangkauan dan mata...., ??? apa jadinya ya????
Diposting oleh
sari
di
19.18
Label: Opini Bebas
Rabu, 07 November 2007
Reformasi Birokrasi ?.
Menurut Budiman Sudjatmiko, aktivis yang kini aktif di PDI-P : " Kunci utama untuk memperbaiki kondisi bangsa adalah dengan mereformasi birokrasi" . Sehebat apapun pemimpin atau program kerja yang disusun, tidak akan banyak berarti jika tidak didukung reformasi birokrasi. Tanpa reformasi birokrasi orang baik dan hebat yang memimpin negeri ini dapat dipastikan akan tersendat ketika akan menjalankan kebijakan peningkatan kesejahtraan rakyat. Kebijakaan tersebut akan cenderung disabotase oleh mereka yang selama ini memperoleh keuntungan dari tidak efisiennya birokrasi. Beberapa step yang Budiman resepkan agar reformasi birokrasi dapat terimplemantas diantaranya adalah:melakukan pensiun dini yang dimaksudkan untuk memudakan birokrasi, peningkatan profesionalisme SDM, rotasi serta penegakan hukum .
Sedangkan menurut Eko Prasodjo ( Pakar Administrasi Politik UI ) ; banyak pihak yang menyadari dan memahami arti pentingnya reformai di jajaran birokrat, namun ada hal - hal yang membuat reformasi hanya menjadi wacana. Berbagai kekuatan politik selama ini juga masih cenderung menjadikan birokrasi sebagai tempat mencari uang seperti contoh kasus yang terjadi di Departemen Kelautan dan Perikanan yang terungkap beberapa saat lalu, dimana ternyata banyak uang ari departemen itu yang mengalir keberbagai kekuatan politik. Akibat sikap berbagai kekuatan politik yang menjadikan birokrasi sebagai sumber dana ini akan membuat ide - ide tentang reformasi birokrasi selama ini seperti menemui jalan buntu.
Reformasi birokrasi berarti juga usaha untuk mengubah perilaku dan budaya birokrat. Usaha merubah ini tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu yang lama? dan usaha yang terus menerus karena kebiasaan dan inefisiensi di tubuh dan para pelaku ( birokrat) sudah tertanam bertahun - tahun lamanya.
( Disadur dari NWO, Kompas 3/11/2007 )
Diposting oleh
sari
di
17.43
0
komentar
Label: Opini Bebas
Senin, 05 November 2007
* *About Zen
Jika Engkau bertanya tentang Zen itu berarti Engkau bertanya apa itu hidup. Jawabannya adalah sebuah pertanyaan yang kadang tanpa akhir. Zen mengesampingkan jawaban yang berasal penjelasan abstrak, karena spekulasi filosofis dan semua jenis pretensi tak berguna . Semuanya jauh dari denyut kehidupan .
Ajaran, karya sastra dan fungsi Zen dalam segala bentuknya adalah menakjubkan, terlihat kompleks karena mentalitas manusia yang juga kompleks . Namun sesungguhnya representasi Zen adalah kesederhanaan, membumi terhadap kehidupan, menyegarkan dan sekaligus mencerahkan. Zen bisa berarti bebas/kebebasan ego manusia, dan itu hanya mungkin bila kepentingan diri telah berakhir.
Alkisah : seekor ikan kecil bertanya kepada seekor ikan besar ;
Ikan kecil : ikan -ikan ramai membicarakan masalah air, apakah air, seperti apa dan dimanaka
air itu ?
Ikan besar : kau bertanya tentang air ikan kecil ? air adalah dimana kini engkau tengah
bersama dan hidup didalamnya.
Zuang Zi * berkata : Ikan - ikan hidup di laut, sungai dan danau namun ikan - ikan itu tak
menyadarinya . Orang - orang hidup bertanya tentang hidup/kehidupan tapi
mereka tak mengenal dan menyadari hakekat dari hidup itu sendiri.
* Master Zen
** Disadur dari Value of Wisdom/Buku tentang Zen( elekskomputindo)
Kawulo Manunggaling ing Gusti
Aku bukan milik siapa - siapa, tidak juga diriku.
Aku tunggal milik Sang pencipta
Jika ku mengikat diri hanya sebatas artifisial dunia dan isinya semua kan berujung sia - sia.
Aku dan ketidakberadaan, pembebasan dan pencerahaan tauhid.
Aku bukan milik siapa - siapa, tidak juga diriku, kekasih, belahan jiwa bahkan ayah dan ibu kandungku.
Tercerahkan oleh ketiadaan
Terbebaskan oleh kemerdekaan, menyatu ke ketiadaan
Transenden dan ekstase ke haribaan
Aku...kawulo manunggaling ing Gusti
Diposting oleh
sari
di
17.23
Label: Puisi Bebas
Kamis, 25 Oktober 2007
Terkenang Bokap
Malam tadi sekitar jam sepuluan kepala gue udah penuh, gue pengen cerita macam - macam, kalo gue punya lap top pasti gue udah writing banyak tuh di word. Ide gue dari masalah cewek matre, pernikahan, kasusnya si pesulap copperfield, grammen bank sampe impian gue punya warung kecil tapi rejeki gede. Ehh ga tau kenapa jadi keingetan bokap nih!, tadinya gue mau nulis essay tiba - tiba jadi ngelantur ( flash back ke bokap, ). Bokap gue adalah salah satu dari sekian orang yang terpinggirkan oleh rezim orba . Dia sempat ditangkap ( kata nyokap pas nyokap lagi hamil tujuh bulan ) dengan alasan ga jelas, terus dituduh ini itu dan sempet ditahan hanya karena bersebrangan paham.
Jadi aja gue pengen inmemoriam bokap, mumpung masih pagi buta ( sekitar jam 7 an untuk ukuran kantor gue ) dan kepala masih all filling in about him , tapi... berarti gue pake fasilitas negara ya ? ( satu dari nilai idialis gue yang sekarang luntur, gue sering pake komputer kantor buat nulis kepentingan pribadi ) sesuatu yang sungguh memalukan dan terlarang ya ! . Ini juga jadi bahan pemikiran gue, sejujurnya gue pengen ngikutin almarhum bokap gue, dia seorang lelaki dengan kehidupan yang sederhana tapi bahagia, adem tentrem ( ini retelling yang gue dapat dari bokap ) . Bokap hidup dalam dunianya, dia jalani hidup dengan nilai - nilai idialisme yang diyakininya dan ini yang bikin gue salut. Dari beliau gue banyak tau tentang nilai - nilai dan etika hidup yang mestinya gue ikutin . Gue ga bisa sepenuhnya kayak bokap, gue masih terlalu pengecut untuk berani tegak dan hidup dengan idealisme. sekarang aja gue nulis pake listrik negara, sesuatu yang kata bokap kalo mati diminta pertanggung jawabannya karena gue makan jatah yang bukan hak gue.
Pengalaman - pengalaman bokap, ide - ide, nilai idieologi dan idialisme beliau lah yang banyak membuat gue terkesan, sayang, hormat dan cinta. dari yang gue tangkap dia pro dengan substansi nilai - nilai nasionalis Soekarno, Syahrir, Hatta dan Agus salim. Ada banyak nilai - nilai hidup yang gue tangkap dari tutur dan prilaku beliau. Gue bahagia jadi anaknya, dia juga yang ngedidik gue untuk ga jadi cewek cengeng yang cuma bisa nangis hanya karena kekurangan , kesulitan materi atau persoalan hidup yang ecek - ecek. Satu prisip strick bokap yang buat gue masih sulit untuk gue terapkan an sich adalah mempertahankan kejujuran yang dilandasi oleh niat baik dan ikhlas dalam menjalani hidup.Buat bokap gue nilai - nilai kejujuran yang berorientasi transenden ke Ilahianlah yang mampu membangun semangat untuk tetap bertahan hidup dizaman segila apapun.
Bokap dah meninggal hampir dua belas tahun yang lalu, dia meninggal dengan membawa kesederhanaan, kewibaan serta keberanian seorang lelaki . Keluarga gue bukan keluarga kaya raya, bokap dulunya pernah gawe tapi akhirnya dia lebih milih resign, ektreemnya beliau lebih senang disebut beroposisi. Bokap bilang lebih enak jadi kuli bagi diri sendiri dan untuk menyambung hidup, nyokap dan bokap membuka warung nasi. Dengan ijin Allah kita hidup, makan, bersekolah dan sukur ada yang nyampe kuliah, itu semua adalah hasil usaha warung. Kalo inget - inget jadi senyum sendiri ( karena begitu kita - kita beranjak besar karyawannya adalah anak - anaknya sendiri yang kalo bantuin baru dapat gaji untuk uang saku, bayaran, beli buku dll nya ).
Gue masih punya utang ama bokap, bokap pernah nyinggung soal salah satu buku Pramudya yang dia belum baca dan gue janji mau beliin, belum kesampaian beliau keburu sakit ( ga lama, beliau ga sadar 2 hari terus meninggal ). Maaf ya pak karena aku belum bisa menepati janji dan da banyak ngelanggar nasehat bapak, so very sorry.
I love U so much.
Diposting oleh
sari
di
17.36
Label: Cerita Bebas
Senin, 08 Oktober 2007
TAHU DIRI DONG !
Saat ini gue tengah bernafas karena ijinNya. Gue berjalan dan mengisi waktu yang diberikanNya semampu gue. Gue rasa dalam rentang waktu lampau dan saat ini da banyak kesalahan yang gue buat, terutama saat gue berinteraksi sosial. Sering dengan kesadaran atau tanpa sadar ucapan, prilaku, prasangka gue sudah nyakitin atau mungkin membuat orang lain tersinggung. Gile bener....
Gue kadang mikir sampai kapan time limit yang diberikan Sang Khalik ke gue, kalo gue cuman bikin alasan - alasan pembenar buat membenarkan ketidak optimalan gue dalam berusaha untuk terus menjadi mahluk yang sejatinya manusia ( mahluk yang ditinggikan kedudukannya diantara tak berhingga mahluk dan materi ciptanNya ) , so benar - benar terlalu !
Semampu gue, itu kalimat mentok sekaligus kalimat penghibur dikala, disaat atau ditengah menghadapi persoalan - persoalan hidup, lalu apakah aksi gue - aksi gue dalam menghadapi perjalan hidup berorientasi pada nilai - nilai Ilahiyah....., itulah yang sekarang jadi pertanyaan hidup gue, entah sampai kapan.
Diposting oleh
sari
di
17.25
Label: Uneg - Uneg
Kamis, 04 Oktober 2007
Gue Harus Ngaca !
Berdamai dengan realistas hidup adalah satu keharusan buat gue . Ini adalah kenyataan yang bisa menghibur dan menenangkan diri disaat pikiran dan perasaan gue luka. Yah bisa luka karena apa aja lah !, yang pasti yang namanya berinteraksi degan sesama manusia pastilah akan ada kerikil - kerikilnya. Jujur aja gue bukan orang yang masuk kriteria baik apalagi prefek. Gue nyadar bahwa horizon gue yang ala kadarnya plus mind set yang kurang positif membuat yang keluar dari kepala gue hanyalah kesimpulan dan prasangka 2 jelek ( mungkin sejatinya tidak seperti yang gue prasangkakan ) . So subjektif banget kan.
Gue berkesimpulan bahwa di ranah sosial dimana kita bergaul dan berinteraksi , akan selalu ada benturan. Situasi lingkungan interaksi yang dirasa ga enak, ga cocok karena banyak sebab, atau ketidakmampuan mengcounter pluralism dalam banyak hal merupakan hal -hal potensil yang bisa membuat gue kadang ngerasa sad and hurt.Pengennya sih fine - fine but it's not easy like I thought.
Mind set gue meyakini bahwa gue tengah menjalani lakon gue sebagai orang hidup. Dalam gue berlakon menjalani profesi, gue akan banyak menemui, melihat bahkan mengalami benturan - benturan interaksi, dari yang level ecek - ecek sampai level saling tuduh, fitnah bahkan ada yang sampai tega menghabiskan nyawa satu sama lainnya.
Semua interaksi menurut gue pasti punya konsekwensi , gue sebisa mungkin "beradaptasi' . Masih menurut gue hidup dan hasil dari hidup adalah pilihan, bukan takdir.Memilih buat gue adalah satu hal yang tak terelakkan. Sejatinya gue pengen bisa beradaptasi tanpa harus menjadi bunglon, tanpa harus meninggalkan nilai - nilai hakiki sebagai seorang manusia.
Wawasan, keluasan, pemahaman ilmu gue masih cetek, kayak sebutir pasir ditengah lautan padang pasir . Gue adalah gue yang dengan keterbatasan pemahaman ingin terus mencoba berdamai dengan semua konsekwensi . Konsekwensi yang mana tak lain adalah output dari semua keputusan yang sudah gue ambil.
Berkacalah gue lewat corak dari lukisan cermin hidup gue, akankah gue melukisnya dengan warna hitam, putih, abu - abu atau dengan keindahan dan keharmonisan formasi dari corak warna - warni ??????
kata gue ngebatin, pengen dan seharusnya sih gitu itu.
Diposting oleh
sari
di
16.41
Label: Uneg - Uneg
Kamis, 20 September 2007
Enaknya Jadi PN S ( Pegawai Negeri Sendiri )
Kepanjangan PNS adalah Pegawai Negeri Sendiri.
Karena memang dibuat sistem yang sedemikian rupa sehingga semua yang berhubungan dengan akses kepegawaian dan kesejahteraannya memang dibuat untuk dinikmati oleh kalangan sendiri. Kalangan sendiri yang berputar antara anak, kerabat atau famili dekat dan jauh ( koneksi karena pertemanan ).
Masalah nepotisme selagi tidak ada aturan yang mengharamkannya ya tentu syah - syah saja . Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah rekomendasi, buat saya rekomendasi boleh - boleh saja selagi yang direkomendasikan itu memang kompeten dan profesional. Tak dipungkiri di negeri ini banyak yang menyalahgunakan kedudukan dan kedekatan untuk memberi dan mendapat rekomendasi . Ketebelece itu mungkin istilah yang tepat untuk rekomendasi dalam arti sempit ( dalam arti/intrepertasi para birokrat ) .
Nepotisme di negeri ini memang satu hal yang lumrah, yang ternyata tidak hanya dilakukan dijajaran eksekutif, badan yudikatif dan legislatif pun sama saja. Tak dapat ditutupi nepotisme di negeri tidak membawa banyak manfaat tapi banyak mudharat . Akses kesempatan kerja, mendapatkan modal, kesempatan berusaha dan perlindungan hukum hanya berputar - putar dilingkungan kekerabatan. Ketebelece hanya berlaku untuk pertemanan atau kongsi - kongsi mereka. Luas dan kayanya hasil bumi ini cuma jadi asset penghasil duit negara yang ujung - ujungnya cuma memenuhi isi perut dan kantong - kantong mereka.
Saya jadi teringat Teori Mendel , kalau perkawinan dilakukan oleh mereka yang masih berkerabat dekat dan dilakukan secara terus menerus maka akan dihasilkan keturunan yang buruk, rentan penyakit dan kemungkinan cacat. Implementasi Hukum memang berbeda dengan teori Mendel tapi untuk aplikasi hukum di lapangan rasanya boleh lah sedikit menganalogikan dengan teori Mendel.
Di ranah Pegawai Negeri Sendiri ( Kerajaannya sendiri ), hukum telah mati, ia cuma jadi retorika penguasa yang juga kebal hukum, si Anu sungkan menegur apalagi memberi sangsi ke si Ani karena si Ani anaknya sendiri, bapaknya sendiri, kerabat, temen atau sahabatnya sendiri. jadi berputar pada itu - itu saja. Ada pakewuh, sungkan atau hutang budi untuk menerapkan aturan/hukum sebagaimana mestinya.
Akhir dari kepakewuhan, kesungkanan dan rasa hutang budi tadi adalah out put yang jelek berupa kemandulan hukum yang berlangsung terus menerus dan ndilalahnya ini menyangkut masalah kepengurusan negara yang sebegini besarnya, yang masalahnya tidak kecil atau cuma selevel teori hereditas milik Mendel. Ini masalah masa depan negeri dan bangsa ini. Sepertinya dinegeri inilah yang Pegawai Negerinya benar - benar merasa bahwa ini adalah negaranya sendiri, uang sendiri yang lain numpang. Jadi syah - syah saja buat mereka untuk memakan, menikmati, mengkorup dan menghabiskannya.
Diposting oleh
sari
di
17.40
Label: Opini Bebas
Senin, 17 September 2007
Tentang Anak
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putra - putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka datang melalui engkau
tetapi bukan dari engkau
dan walau mereka bersamamu
tapi mereka bukan milikmu
Kau dapat memberi mereka cinta kasih
tetapi tidak pikiranmu
sebab mereka punya pikirannya sendiri
Kau dapat merumahkan tubuhnya,
tetapi tidak jiwanya
sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan yang tiada dapat kau sambangi,
bahkan tidak dalam impian - impianmu
kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka
tetapi jangan berusaha membuat mereka sepertimu
By : Kahlil Gibran, Sang Nabi
Gnothi Se Authon by ALFATHRI ADLIN
Gnothi Se Authon ( Kenalilah dirimu sendiri ) . Ucapan kata mutiara Apollo itu digunakan socrates untuk mengajari warga Athena agar mengenali siapa diri mereka sejati. Kehidupan yang tidak ditafakuri ialah kehidupan yang tidak layak dijalani.
Manusia menurut Socrates mempunyai "diri yang nyata" yang harus ditemukan dan dikenali oleh dirinya sendiri. Kebahagiaan yang nyata terdapat dalam pengenalan akan diri yang nyata tersebut.Dengan mengenal siapa dirinya manusia akan mengetahui bagaimana sebaiknya berbuat.
Socrates menghimbau kaum muda untuk brtafakur agar dapat mengenal diri sendiri. Walaupun pengetahuan dapat dipelajari melalui debat dan diskusi, Socrates tetap menekankan bahwa pengetahuan yang nyata mengenai esensi harus dicapai dengan pengenalan diri sendiri.
Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar - benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, melainkan untuk mengetahui , atau bahkan mengeksploitasi segala hal selain diri sendiri.
Frederich Nietzche, seorang filsuf Jerman abad XIX, juga sudah mensinyalir hal tersebut dengan mengatakan : Kita tak kenal , kita ( yang katanya berpengetahuan ) tak kenal diri sendiri ....niscaya kita tetap asing bagi diri kita sendiri, kita tak paham diri kita sendiri.
Manusia tak ubahnya tanah liat tak berbentuk dan menantikan dibentuk menjadi apapun. Identitas kita dipandang hanya sebagai konstruksi sosial - budaya belaka yang menjadi cetakan bagi manusia yang terlempar kedalamnya. Pandangan seperti ini semakin mengarahkan manusia untuk bergerak, melihat, dan mempelajari segala sesuatu diluar dirinya dan melupakan khasanah dirinya sendiri.
Dalam tren buku - buku psikologi populer, manusia malah lebih sering diarahkan untuk terobsesi menjadi orang lain yang dipandang sebagai simbol paripurna. " bagaimana menjadi Michael Jordan misalnya. Padahal, orang yang selalu ingin menjadi seperti orang lain adalah pecundang.
Socrates tentang pengenalan diri yang nyata atau diri sejati sudah mengisyaratkan tentang "cetakan" primodial manusia. Gunting yang dibuat untuk menggunting tentu akan melakukan kerja tersebut lebih baik daripada benda lainnya. Begitupun manusia dia diciptakan untuk sebuah tujuan , dan dapat melaksanakan tujuan tersebut dengan lebih baik dari padamahluk lain yang tidak diciptakan untuk tujuan itu.
Dalam ajaran Socrates terlihat adanya "energi minimal", sebuah energi dimana seseorang terlihat oleh orang lain seperti tengah bekerja keras mengerjakan sesuatu. Padahal, bagi yang bersangkutan, kerja keras tersebut tak ubahnya seperti ikan yang bernapas di air. begitu mudahnya melarutkan diri dalam keasyikan dalam kerja.
Akan tetapi, tak setiap energi minimal tersebut dimanfaatkan oleh manusia untuk memahami dirinya . seringkali yang terjadi adalah; terciptanya jurang yang lebar antara pengetahuan yang diperoleh melalui energi minimal tadi dan pengenalan diri melalui pengetahuan tersebut.
KOMPAS 17 Nofember 2007
Diposting oleh
sari
di
02.02
Jumat, 14 September 2007
Di Rumahku Ada Surga
Taman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja
Satu tak kehilangan lain dalamnya
bagi kau dan aku cukuplah
Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan manusia
By: Chairil Anwar
Puisi ini adalah tentang rumah yang disebut taman. Taman hati . taman hidup. Tidak harus luas dan megah ruanganya. Tapi cintalah yang membuat serasa didalamnya. Cintalah yang membuat cukup lapang di dalam dada. Cintalah yang membuatnya nyaman dihuni.
Kenyamanan, itulah rahasianya. Rahasia jiwa yang diciptakan oleh cinta. Dengannya kita mampu bertahan dalam memikul beban hidup, melintasi aral kehidupan, melampaui tak berhingganya gelombang peristiwa, sambil tetap merasa nyaman dan teduh. Eksresi cinta berupa kenyamananlah yang mampu menyerap semua emosi negatif yang masuk ke dalam serat - serat jiwa melalui bombardir himpitan peristiwa kehidupan. Segala luka emosi yang kita alami di sepanjang jalan kehidupan ini hanya mungkin dirawat disana, dalam rumah cinta.
Ada sebuah tembok bangunan yang kuat
Tembok yang mengelilingi dan melindungiku
Adalah Tembok yang dibangun dari kata - kata yang kau ucapkan padaku
By : Mary Carolyn Davies :
Jiwa yang terlindungi akan cepat bertumbuh dan berbuah. Sederhana saja. Hakekat cinta sebenarnya hanya memberi. Memberi semua kebaikan yang tersimpan dalam jiwa, melalui tatapan mata, kata atau tindakan. Jika terus menerus kita memberi kita akan terus menerus menerima. Pemberian jiwa itu menghidupkan kekuatan kebajikan yang sering tertidur dalam jiwa manusia. Mari melihat pepohonan disekitar, mereka yang awalnya hanya menyerap/menerima asupan mineral, air dan sinar matahari dari lingkungannya kelak dikemudian hari pepohonan itu akan mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya; buahnya dan keindahannya.
Dalam rumah yang penuh cinta itulah kita akan menemukan rasa aman, kenyamanan dan kekuatan untuk terus bertumbuh. Itu sebabnya rumah cinta seperti itulah yang menghadirkan surga dalam kehidupan kita. Rumah seperti itulah yang dengan ridhoNya akan utuh dan abadi.
Disadur dari Serial Cinta : Anis Matta LC,
Partai Keadilan Sejahtera
Rabu, 12 September 2007
Godaan Hati
Ini hari pertama di bulan Rhamadan. Alhamdulillah Insya Allah gue puasa. begitu nyampe di meja kerja bukan kerjaan yang menganggu gue tapi seseorang yang pagi - pagi sudah ngegosip. Gue sebisa -bisanya aja dengerin , karena jujur aja gue juga sebel cuma mo negor langsung rada - rada ga enak ( buat gue ngadepin emak - emak yg umurnya jauh diatas gue, gue lebih banyak ga bisa tegas, apalagi gosipnya lebih ke curahan hati yang sedikit dibumbui rasa kesal terhadap seseorang yang lagi diceritaiin ke gue ) Ya Allah engkau yang maha tau seberapa kekuatan ku.
Buat gue sulit banget buat ngejaga hati , kuping dan lidah untuk tidak melakukan hal - hal yang memalukan gue di hadapanNya. apa ini konsekwensi hidup bersosialisasi ? ga juga khan?, emang sih kita kudu - kudu pandai mencari teman, syukur kalo dapat teman yang selalu ngajak ke kebaikan na kalo ga dapat dikarenakan emang saat ini kondisi yang kita harus dihadapi adalah kondisi yang jauh dari kondusif mo ga mau kita harus ngadepin kan ?.
Diposting oleh
sari
di
18.40
Label: Uneg - Uneg
Selasa, 11 September 2007
Lu yang Gue Benci
Elu yang gue benci.
Lu dimata gue adalah cuma sosok goblok yang bernasib baik.
Bernasib baik karena kelicikan elu yang pinter cari kesempatan dan aib orang. Prilaku yang doyan makan jatah , tanah dan ga jarang isteri atau pacar orang adalah cuma sebagaian kecil dari sepersekian kebobrokan moral lu yang mungkin itu hasil didikan atau emang turunan bapak emak lu ?
Bagi gue level lu masih di bawah sampah busuk!. Sampah busuk masih ada gunanya, kalo elu cuma jadi parasit bangsa.
Otak lu jauh dari intelek apalagi moral lu, ga ada pantes 2 nya jadi penguasa.Gue tau banget kartu lu. Elu kan yang pake gelar palsu, S1 beli S2 di kampus yang ngampang lulusin mahasiswa kosong dan bego tapi banyak mulut. Bukan gue aja yang tau aib lo !. Ga pantes otak lu nyandang gelar akademik yang sepatutnya dijunjung.
Elu emang pantes masuk jajaran birokrat ter- akhir gue denger lo nyalonin jadi politisi . Pantes lah ! itu jalur yang pas buat lu. Asal lu yang goblok tu nyadar bahwa negeri ini emang lebih butuh orang - orang macam lu, yang lebih ngandelin koneksi tanpa prestasi, yang gak butuh pinter, kerja keras apalagi nurani buat dapet posisi.
Asal lu tau ya, lu gak perlu belagu, sok jadi pembesar yang cuma omong besar, petantang - petenteng dan sok sibuk ga karuan . Lu manusia yang ga berguna dan ga berjasa buat negeri jangan pernah berpikir gue dan orang di luar sana sama goblok dan rendahnya kayak lu.
Buat gue dan orang - orang diluar istana lu . Elu hanyalah representasi sekelompok monyet, ular dan tikus elit, badutyang berjalan dengan perut kenyang diantara masyarakat umum yang kelaparan dan bergaya jetset ditengah jatuhnya nilai rupiah serta mampu tegak diantara orang - orang idealis pintar yang akhirnya memilih jalur perlawanan diam .
Jadi ... nista ! deh lu . Lu, turunan lu juga kroni - kroni lu cuma masuk kotak hitam sejarah gelap mereka. Mereka bagian dari bangsa ini yang masih punya nurani dan harga diri bukan milik sekelompok/kroni yang sudah buta mata hati.
Diposting oleh
sari
di
23.31
Label: Uneg - Uneg
Cuplikan Dealektika Hegel
Kita hidup di tengah 2 misteri. Salah satunya adalah misteri perubahan, yang lain adalah misteri identitas. Keduanya merupakan realitas tetapi realitas yang tidak terpisahkan. Sungai senantiasa berubah dan tak pernah sama. Air yang dikandungnya tak henti - hentinya mengalir dan berganti. Tebing 2 sungai dan volume air selalu berubah, bergantung musim. Semua ini adalah fakta yang bisa diamati dan tak bisa dibantah.
Tetapi dalam pengertian lain kendati ada perubahan, sungai memiliki identitas yang bersifat tetap dan tak bisa memberi presepsi keliru. Amazon, Mississippi dan Gangga contohnya. Ketiga sungai ini telah ada ribuan tahun lamanya, ditempat yang sama dan memiliki aliran yang sama dan dengan jelas bisa dikenali meskipun selalu berubah.
Begitupun manusia, anak kecil dan orang dewasa berbeda namun perhatikanlah ada ciri 2 individual pada seorang anak yang bersifat tetap dan bisa dikenali setelah ia dewasa. Manusia senantiasa berubah , selalu tumbuh dan menjadi tua. Kadang sulit mengenali teman lama, tetapi keistimewaannya tetap dan akan nampak bila diamati. Perubahan memang konstan, tapi identitas juga bersifat konstan. Kebenaran sepenuhnya hanya bisa dicapai dengan memasukkan keduanya ke dalam pertimbangan.
Inilah inspirasi pokok yang dikutip dari dealektika Hegel, yang mencari titik temu antara hal 2 yang bertentangan dalam sintesa yang lebih tinggi .
( Pemahaman dari : The Trial Of Socrates , Pusaka Utama Grafiti 1991 )
DENDAM KU
Pak, Bu kalo dulu aku bisa atau diperbolehkan memilih, aku akan memilih untuk bersekolah di TK, SD, SMP dan SMA yang lain, dimanapun yang penting bukan di sekolah itu. Kalau perlu dan mampu aku lebih memilih di sekolah negeri , yang katanya dulu lebih banyak berantemnya, yang katanya dulu tidak disiplin dan bermutu pelajaran yang kalah dibanding dengan sekolah itu. Sekolah dimana yang dulu harus menjadi tempatku menuntut ilmu.
Pak, Bu, sebenarnya aku tak suka bersekolah disitu, apapun predikat baik yang disandang sekolah itu aku tak peduli, aku hanya ingin rasa senang dihati saat mana aku harus menuntut ilmu, bukan keterpaksaan dan rasa takut. Tahukah Bapak dan Ibu aku tak suka perlakuan galak apalagi meremehkan diriku hanya karena pernah salah menjawab soal. Tahukah Bapak, Ibu bahwa aku adalah aku, yang berbeda dengan mereka atau dengan kakakku yang memang sesuai dengan pola guru - guru itu, di sekolah itu.
Aku tak suka mereka !, sekolah dan hampir sepertiga jumlah guru - gurunya, dipaksapun aku tetap tak suka. Maafkan aku Pak, Bu, jika aku mengecewakan kalian, aku tidak sepandai kakakku dan akupun tidak ingin jadi seperti kakakku itu, dan ampuni aku karena kesengajaanku memberi yang terjelek untuk bidang akademisku. maafkan akan kesenangannku untuk memberi yang terjelek yang sesungguhnya kupersembahkan buat guru - guru itu, sebagai balas dendamku. Jika mereka lebih pintar dariku harusnya mereka tau ada apa dibalik itu ????
Diposting oleh
sari
di
21.10
Label: Cerita Bebas
Kata Gue Yang Apatis
Mungkin negara ini akan adil makmur gemah ripah loh jinawi jika negara ini diurus oleh para orang pintar yang bijak dan punya niat yang lurus semata - mata mengabdi buat negara dan bangsa, dengan berpijak pada nilai - nilai keadilan yang substansi formulasinya paling tidak terdiri atas teologi keTuhanan, filsafat, dan kebenaran - kebenaran praktis yang universal . Namun sayangnya kepengurusan ini hanya dipegang oleh sekelompok elit yang itu - itu saja, yang sudah jelas dari dulunya cuma pintar dislogan, kaya retroika tapi miskin implementasi.
Prek !, sejatinya banyak sudah kemuakkan yang harus terus ditahan, gue kadang mikir apa nasib bangsa ini harus seperti ini terus ?. Terus menerus disusahin oleh persoalan klasik ( pangan, papan, akses permodalan dan kesempatan untuk ber-eksis dengan cara - cara yang fair ) . Gue bukan orang yang gampang yakin dan percaya sama laporan - laporan ekonomi makro yang njelimet, yang cuma bisa kasih angka - angka gede tentang kenaikan / kemajuan ini itu di sektor makro. Gue cuma orang bego yang taunya cuma keadaan riel di lapangan yang ngadepin langsung hasil dari kebijakkan dan tipuan para setan intelek yang katanya pintar ngurus negara itu , persetan ama grafik - grafik makro yang ( kelihatannya naik ), keparat ! itu serapah yang paling sering gue lemparkan ke orang - orang gila itu.Orang gila, orang gila yang ingin terus menerus menguasai negara dan apa yang sudah dihasilkan oleh perut negara ini untuk dimasukkan ke perut mereka dan kroninya.
Kata gue yang apatis, orang - orang pinggiran macam gue akhirnya harus menghadapi dua pilihan hidup untuk terus hidup. Pilihan pertama adalah mau ga mau gue harus ikut arus, arus dari sistem yang sudah dengan sengaja diciptakan oleh sekumpulan setan, iblis berwujud manusia. Sistim tipu muslihat yang dibungkus slogan - slogan kerakyatan, keadilan dan kesetaraan hukum tapi prakteknya cuma bisa ngeduk duit dan ngabisin duit buat para pemainnya. Pilihan kedua gue tetep dengan pijakan idialisme gue walaupun gue harus perlahan mati ter-engah - engah.
Diposting oleh
sari
di
17.25
Label: Opini Bebas
Rabu, 05 September 2007
WARTAWAN GOSIP/INFOTAIMENT
Era ini adalah era wartawan gosip/wartawan infotaiment. Tersfasilitasi oleh wadah multimedia berita - berita yang disajikan oleh para pemburu/penggosip ini mendapat tempat yang layak bahkan tak jarang mendapat rating tertinggi. Pangsa pasar yang begitu besar mendapat sambutan dengan banyaknya suguhan gosip yang selalu tersedia dan seakan tak ada habisnya tersaji lewat media cetak maupun media audio visual. Akankah ini representasi bangsa kita ?, bangsa yang cuma haus berita murahan dibanding berita - berita yang lebih bermutu dan bermanfaat ? yang kemudian dimanfaatkan oleh beberapa pemilik modal besar khususnya yang bermain di industri hiburan . Kegigihan para insan pers khususnya pembawa bendera infotaiment untuk mendapat pengakuan bahwa profesi mereka adalah sejajar dengan wartawan/pencari berita fakta lainnya pastilah mendapat dukungan penuh dari para bos pemilik modal itu.
Jadi zaman yang berpihak pada kita - kita yang lebih gemar mengosip, atau " mereka - mereka " yang mengendalikan zaman dengan menciptakan/menstimulus " naluri"? bangsa ini dengan membombardir suguhan - suguhan gemerlap gosip seleb dan public figure.
Teori apa yang tepat untuk mewakili fenomena ini ? . Siapa yang lebih punya andil menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang hanya pintar bergosip, bergunjing, menebar issu atau bahkan fitnah. Terlepas dari perlindungan hukum pers akan keberadaan mereka . Kita sudah menyedikan ruang luas dan bebasan untuk berita murahan yang berdaya jual tinggi tanpa mau peduli . Peduli bahwa kepintaran mengejar gosip, issue ditambah pendramatisiran " berita " demi keuntungan kantong pribadi hanyalah pekerjaan yang hanya membutuhkan " kepandaiaan " yang tidak tergolong educated dan jauh dari etika dan nilai jurnaslitik sesungguhnya.
Diposting oleh
sari
di
22.59
Label: Opini Bebas
Senin, 03 September 2007
Kematian yang gue ga tau kapan
Bulan Agustus ini dua kali gue melayat. Pertama gue ngelayat anak bos yang meninggal karena kecelakaan. Layatan kedua tetangga gue sendiri yang meninggal karena usia dan juga sakit yang tak kunjung sembuh.
Diwaktu - waktu seperti itu gue kadang diliputi mood yang aneh.Mood yang jujurnya bikin gue sedih tanpa sebab ( karena jujur gue kadang melayat jenasah yang secara emosionil ga ada hubungan apa - apa, jadi gue sedih aja ama diri gue dan peristiwa kematian itu sendiri) .
Kadang kematian membuat gue nyadar dan berpikir; kita, gue bakal begitu. Pikiran gue cuma gimana gue kelak ngadepinnya, kalo malaikat maut gue ga mungkin ga takut yang ada gue malu ama yang nyiptaain dia dan yang nyiptaiin gue. Sayangnya rasa malu itu ga ngejadiin gue berusaha keras untuk melakukan hal - hal yang kelak tidak mempermalukan gue dihadapan Dia. Gue masih aja jadi manusia sok pintar, belagu, sok tau dan sok - sok lainnya.Apalagi amalan gue weee masih jauuuh yang ada juga riya.
Kematian dia adalah kepastian
Dia adalah keniscayaan. Meski waktu tahu, dia pasti membisu dan tak kan memberi tahu.Tapi buat gue, pastilah ada tapi entah kapan, Dia yang akan datang, tanpa batas tanpa sekat tak terkendali dia datang menghampiri. Gue pengen saat itu, gue udah punya sesuatu yang ga bikin gue malu.
Diposting oleh
sari
di
18.26
Label: Opini Bebas
Di Obral !
Obral, obral
Dijual murah !
Sebuah negeri indah yang kaya raya dengan sumber alamnya. Negeri yang benar - benar gemah ripah . Penduduk negeri itu selain terkenal dengan keramah-tamahan dan kemurahan senyumanya juga terkenal dengan peringkat korupsinya yang cukup mencengangkan serta tingkat kemiskinan yang dalam kenyataannya ga pernah turun peringkat.
Di negeri ini para penguasa jajaran eksekutif, yudikatif and legislatifnya terlihat rajin beribadah namun ga punya etika moral, rasa malu apalagi rela berkorban demi rakyatnya.........( mimpi kali ye ). Hampir seluruh aparat negaranya brengsek, saling kongkalikong menyelamatkan duit negara ( selamat agar masuk kantong pribadi dan kroni), pelindung para koruptor , anggota dewan yang doyan duit dan mesum serta aparat hukum yang bisa dibeli duit semuanya lengkap ada disini.
Bagi para Koruptor, Gembong Mafia, Raja Kasino, Psikopat Politik dan Germo Level Internasional yang berminat silahkan hub : Hp 00000000 atau semedi sambil menyebut : Raja Setan Alas Penguasa Kerak Neraka sebanyak 3 X
Diposting oleh
sari
di
02.10
Label: Puisi Bebas
Minggu, 02 September 2007
Kelupaan Kunci
Pagi ini gue da nyampe kantor, cuman begitu mo buka lemari doc. gue kuncinya ketinggalan di dalam lemari ( na! lo ) gu coba pake klip , eh malah patah and ketinggalan di lobang kunci, gue bismilah aja nyoba ngorek 2. akhirnya patahan klip bisa keluar, sekarang gue berharap uda ada bagian umum yang masuk and moga 2 juga dia bisa bongkar ni lemari, kalo ga berabe de.
Tapi seperti pengalaman gue yang sudah 2, pas kepepet Allah selalu nolong gue, walaupun barusan gue udah coba telepon bagian umum belum ada satu manusia pun yang datang padahal uda jam 7.30 lebih , Insya Allah gue yakin tu lemari bakal kebuka sebelum bos gue datang.
Diposting oleh
sari
di
17.22
Label: Uneg - Uneg
Kamis, 30 Agustus 2007
Tan Malaka
Tan Malaka adalah pejuang yang militan, radikal dan revolusioner. Tokoh ini banyak melahirkan pemikiran - pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. Tokoh yang memiliki nama utuh Ibrahim Datuk Tan Malaka, namun lebih dikenal sebagai Tan Malaka, adalah seorang Minang yang merantau di usia muda. Menghabiskan sebagian usianya di mancanegara, khususnya Belanda dan Rusia, Asia Timur dan Asia Tenggara juga pernah disinggahinya.
Tan Malaka adalah sosok kontroversial. Ia adalah tokoh kiri, tetapi tak bersedia patuh pada komunisme Moskwa ataupun Peking, bersikap radikal diluar negeri dan di negerinya sendiri. Di masa revolusi, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Malah sebagian orang menyebutnya sebagai filosof Indonesia yang paling awal. Dalam usia muda ia pernah dielu - elukan dinegara tirai besi, dianggap sebagai tokoh komunis yang disegani di Asia Timur dan Tenggara.
Tan Malaka dikonstruksikan sebagai tokoh pergerakan nasional yang berpemikiran kiri, beliau dianggap menentang pemerintah sehingga dikejar, ditangkap dan dibunuh oleh tentara negerinya sendiri. Ia dianggap tokoh yang banyak ulah, menetang petinggi negara, suka ngotot dan sulit diajak kompromi dan sangat mungkin inilah penyebab kematiannya, ia tewas dibunuh ditangan tentara negerinya sendiri.
Apakah beliau seorang penganut tulen arus besar komunisme Rusia dan Cina ?, ternyata tidak . Hal itu bisa dibuktikan dengan perbedaan pandangannya dari tokoh - tokoh komunisme Rusia seperti Alimin, Semaun dan Muso, yang menghendaki revolusi diterjemahkan sebagai pemberontakan masa rakyat .Tan Malaka memutuskan membelot dari arus komunis Rusia dan China, ia ingin menjadi diri sendiri. Iapun keluar dari PKI dan membentuk PARI.
Rabu, 22 Agustus 2007
Kesejatian
Gue ga yakin di jaman sekarang ini masih ada yang namanya cinta sejati .Kenyataan dilapangan banyak orang yang sudah jelas punya tambatan hati tapi masih sering jatuh cinta kelain hati.
Cinta buat gue bak rimba belantara yang hanya punya sedikit cahaya. Dimana dalam rimba raya itu tiap - tiap jiwa ada disana. Suatu saat dua jiwa bertaut penuh rindu dan cinta. Bagi mereka yang buta ilmu, hati dan mata namun rela masuk ke kedalaman rimbanya, suatu saat saat akan menyesalinya. Jika tidak saat ini mungkin nanti.
Masih menurut gue dalam kesejatian cinta ada kesungguhan, pengorbanan dan keikhlasan yang diupayakan terus menerus dan tak berbatas.Kesejatian bukan mainan murah ecek - ecek , tapi puzzle yang menuntut kecerdasan spritual , emosional dan " intelektual " . Kenapa kata intelektual gue kasi tanda petik ? alasannya adalah keintelektualan disini bukan mutlak milik mereka yang makan bangku pendidikan formal saja, tapi juga milik mereka yang mau belajar terus untuk dapat membaca, mencerna, memahami realita asmara yang terjadi dalam kehidupan, lalu terus menerus berusaha mencapai kesejatian cinta buat diri dan pasangan terkasihnya.
Emang masih ada ! ?? ?, tauk ahh elap
Diposting oleh
sari
di
22.50
Label: Opini Bebas
Selasa, 21 Agustus 2007
Kenapa Enggak ?
Mencoba mencintai seseorang yang tidak kita citai kenapa enggak,
pernah denger gak ama pepatah Jawa yang ini nih “ witing tresno
jalaran soko kulino “. yang kalo boleh diartiin cinta bisa tumbuh
karena seringnya bertemu dan berinteraksi itens. Banyak lo pasangan
( suami isteri ) yang tadinya berperasaan datar – datar aja tiba –
tiba jadi suka, rindu lama – lama cinta beneran. Lihat and pasang
kuping deh ama cerita orang yang seangkatan kakek – nenek atau malah
ortu kita sendiri, banyak dari mereka yang menikah lantaran dijodohin
aku sih gak mo ngeributin soal perjodohan ini apalagi ampe konfrontasi
dengan penganut faham anti perkawinan tanpa jatuh cinta dulu, gak
lah ! . Aku cuma pengen aja open minded diriku sendiri bahwa bisa aja
kan dan kenapa enggak kalo aku juga suatu saat dapat suami hasil
perjodohan.
Pribadiku sendiri sih ga penganut faham harus pacaran dulu before
married, argumenku : lama atau sebentarnya pacaran tidak menjamin satu
perkawinan bakal langgeng . pacaran Cuma buang waktu dan
duit ! ?..plus kayaknya lebih banyak palsunya ( hi 3x ) . Pendapatku
ini buat para akademisi mungkin berlebihan dan terlalu cepat mengambil
kesimpulan tanpa dasar pembuktian. Emang sih ! this thesis is just
coming from my opinion that have a basic of my religion, jadi enjoy
aja : ) tuh dalam menjalani kejombloan ini ( kayak iklan rokok tuh ,
ga perlu pusing apalagi ampe 7 keliling ) .
Dijodoin…kenapa enggak selagi:
Prosesnya baik and pake aturan yang sifatnya tidak maksa banget.
Para pasangan yang akan dijodohkan haruslah diberi informasi yang
benar tentang bagaimana kekurangan dan kelebihan masing – masing
pasangan dari pihak yang mau ngejodoin.
Nah jangan lupa akan satu hal yang ga kalah penting yaitu punya niat
dan tujuan yang baik begitu dirimu merasa inilah saat yang tepat
untukmu membangun mahligai rumah tangga
( te’ ile gue kayak nenek – nenek aje nasehatin segala ) .
Diposting oleh
sari
di
22.15
Label: Opini Bebas
Penipu Sukses
Aku adalah seorang penipu, maling dan penjarah yang sukses. Hidup
berkecukupan serta hidup terpandang.Sejak awal memang cita - citaku
menjadi penipu yang sukses . Dibesarkan oleh keluarga yang juga
terkenal sukses menipu maka tak salah jika aku ingin meneruskan
dinasti penipu ini . Ibarat kacang yang tak ingin lupa kulit aku akan
meneruskan apa yang telah diajarkan dan diteladankan oleh mami papiku.
Ada satu nasehat mereka yang tak mungkin aku lupa lupakan, begini:
anakku sang pangeran penerus generasiku jadilah penipu ulung yang
kelak dielu - elukan serta diabadikan menjadi pahlawan ini dan itu.
Sungguh orang tua yang bijaksana. Dengan penuh sayang dan limpahan
kemanjaan serta kemewahan dari hasil menipu, maling dan menjarah
dibesarkanlah diriku. Aku benar - benar bahagia dan bangga dengan
mereka . Ya Harta , Benda, Kedudukan dan Gila Hormat yang menjadi
Tuhanku masukkanlah keduanya dalam surgaMu.
Untuk menjadi penipu yang sukses ternyata sangat mudah terutama di
negeri tercinta Abrakadabra ini. Ku pilih kulit bunglon sebagai
stelan jas, kemeja, kaos, piyama berikut sepatu sampai celana dalamku
dengan begitu mereka yang tidak segolongan denganku tidak akan tahu
siapa aku sebenarnya. Dengan memanfaatkan kedudukannku kuperbesar
bisnis raksasa yang tidak lain adalah peninggalan leluhurku.
Berpenampilan santun, soleh, dermawan rumah ibadah dan anak yatim yang
penuh kepura - puraan seakan takut akherat itu akal bulusku.
Satu kali aku terkena sedikiiiit perubahan zaman di negeri ini ( namun
beruntunglah ternyata karena masih banyak kroni dan peninggalan
kharisma tukang tipu dari papi mami ) aku sempat terbelenggu oleh
mereka - mereka yang jelas belum berhasil ku tipu. Tapi tak apalah
hanya sekejap itupun aku masih bisa dengan asik dan bebasnya menikmati
kesuksesaan cecunguk 2 dari imperium papi mami.
Ah... bahagianya aku bisa hidup bergelimpang harta dan wanita tanpa harus
bersusah - payah cukup hanya kepandaian menipu plus berwajah palsu.
tak akan keliru
Diposting oleh
sari
di
19.18
Label: Puisi Bebas
Antara Kopi dan Cangkir
Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life.
Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.
Diposting oleh
sari
di
00.50
0
komentar
Label: Inspirasi
Senin, 20 Agustus 2007
UKM ( USAHA KECIL MERANA )
Jakarta 27/8/07
Untuk urusan yang satu ini Insya Allah sekuat tenaga gue akan bertahan, nah ! dalam hal ini gue harus yakin selagi gue tetep kerja keras dan berusaha untuk tetep berusaha nyajiin makanan yang enak juga terjangkau suatu saat akan ada efek balik yang bagus ( ini da banyak gue baca dari literatur manajemen bisnis lo ).
Diposting oleh
sari
di
01.52
0
komentar
Label: Uneg - Uneg
