Akhirnya hari yang ditunggu – tunggu datang juga . Hari kematian Paman Gober yang sangat ditunggu – tunggu itu. Ditunggu oleh saya dan kami penduduk kota Bebek. Di hari itu tidak ada media yang tidak meliput kematian Paman Gober. Ada media yang menyanjung – nyanjung tapi ada juga media yang menyanjung jasa – jasa beliau dan tak lama membuka borok – boroknya
Saya sendiri, satu dari sekian penduduk kota Bebek yang mengharapkan kematiannya turut mendengar dan menyaksikan ” keramaian ” seputar berita orang yang terkaya di kota Bebek.
Di televisi saya juga melihat bagaimana anak – anak Paman Gober penuh dengan kesedihan, menangis seraya menghiba , memohon maaf atas kesalahan – kesalahan Paman Gober dan tak lupa meminta kami juga turut mendoakannya. Sayang sekali saya tak punya naluri jadi saya bengong – bengong saja , tanpa kesedihan apalagi kehilangan. Tidak menangis seperti tetangga saya yang dulu pernah jadi bodyguard anak bungsu kesayangan si Paman Gober.
Di televisi pula saya menyaksikan berkumpulnya dinasti Paman Gober. Ada anak – anaknya, mantu, besan, para cucu dan tak ketinggalan para kroni sekalian . Anak – anak yang disayanginya itu semua nampak bersedih . Entah sedih belum kebagian proyek , harta warisan atau sedih beneran. Saya tidak tahu, yang saya tahu cuma kelakuan anak – anak Paman Gober yang tak tahu malu. Memalukan si bapak sendiri juga memalukan diri dan dinasti.
Paman Gober akhirnya mati juga. Apakah dengan kematiannya berakhir dinastinya ?, mudah – mudahan saja. Tapi saya juga tidak merasa yakin karena masih ada generasi setianya, yang akan terus meneruskan cita – cita ingin terus mengeruk semua kekayaan kota Bebek dengan cara lama . Yaitu memanipulasi penduduknya dengan retorika keadilan, pembangunan, pemerataan dan persamaan dimata hukum.
Sejak sakitnya si Paman saja, kalangan keluarga maupun para mantan dan pendukung setianya sudah banyak melakukan usaha gembar – gembor lewat berbagai media. Menceritakan, mewartakan akan jasa – jasa Paman Gober terhadap negeri yang entah kapan makmurnya ini. Menyanjung – nyanjung kesetian Paman pada sang isteri dan juga kecintaan beliau pada keluarga . Mengarang ini dan itu agar tercipta keseragaman image bahwa karena Pamanlah kota Bebek jadi maju, makmur dsb.
Wauarakadabrah!!! ( kayak Pailul nya Panji Koming ) Saya pikir – pikir Paman Gober ini memang patut juga jadi tokoh sejarah. Saya patur mengenangnya. Mengenang kepemimpinannya yang juga telah memporak porandakan tatanan hukum, keadilan dan demokrasi di kota Bebek.
Minggu, 27 Januari 2008
Kematian Paman Gober/nyambung crt Mas Seno
Diposting oleh
sari
di
17.16
Kamis, 24 Januari 2008
Jalan - Jalan
Kalo denger kata jalan – jalan pasti yang terbayang di kepala saya itu gak jauh dari yang enuak – uenak. Jalan – jalan yang saya maksud disini sama halnya dengan rekreasi . Cuci mata dengan melihat – lihat yang bisa bikin mata, hati mak nyesss dan bibir ini serasa mau tersenyum seikhlasnya terus dan terus. Jadi jalan – jalan yang saya maksud itu ya yang ada hubungannya dengan senang – senang saja, just having fun tanpa beban gitu lo. Beban pekerjaan, beban moral dan beban rutinitas lainnya. Kedengarannya enak ya ?, ya iya lah ! baru dengernya aja enak apalagi ngelakonin pasti tambah uenak.
” Enak – sih enak Sar tapi itu kan gak gratis, kudu punya persiapan ini –itu terutama duit yang banyak ato ga minimal cukup buat ongkos dsblah ” !, kata teman saya nyeletuk .Lha nggak juga la yaw. Kalo jalan - jalannya kayak anggota DPR buat studi banding, atau gak perjalanan dinasnya para birokrat di Departemen selain gratis juga dapet duit . ” Ya enggak lah Sar , mereka kan emang dalam rangka kedinasan . Kan tujuan mereka juga untuk kebaikan negara ini” . ” Wajar kalau negara memfasilitasi mereka ini dan itu , mereka sudah bekerja dan berpikir untuk negara ini ”. Kembali teman saya yang baik hati itu mengeluarkan prasangka baik yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
O wualllahh #?*?$# !, maafkan saya ya. Saya memang warga negara yang tidak tahu diri Cuma bisa protes nuntut ini dan itu. Tapi saat saya sedang ngomong soal jalan – jalan, saya itu sedang kepengen kumat edannya . Karena edannya saya, opongan saya ya suka – suka saya. Semoga teman saya yang memang aselinya baik itu tidak ikutan edan estela mendengarkan ocehan saya yang ngawur dan ngalor - ngidul
.
Jadi yang saya maksud anggota DPR dan birokrat itu, ya saya sendiri. Sayalah yang memerankan dua lakon itu. Karena dari awal saya itu ndableg, gendeng dan bebal ya begitu jadi lelakon DPR dan birokrat mental karakter saya tetap saja nduablegg!.
Jadi jangan heran jika, dengan alasan studi banding atau menijau ini dan itu saya bisa mlancong keberbagai daerah. Saat lakon birokrat, diminta atau tidak saya akan sesering mungkin minta SPPD ( Surat Perintah Perjalanan Dinas,). Dengan SPPD yang benar maupun yang fiktif, dompet saya bakalan penuh duit buat modal jalan dan senang – senang. Senang – senang di dalam maupun luar negeri. Saya juga senang jadi lakon PNS. Jadi PNS biar ga bisa bahasa asing dan cuma modal bantu 2 fotocopy sama bawain tas kopor/barang2 bos , saya sudah bisa jalan 2 ke LN kok.
Lakon – lakon saya itu semuanya enak – enak . Memang saya hidup itu untuk mencari yang enak – enak. Termasuk cari lakon dalam berperan di negeri Republik Dongeng.
Diposting oleh
sari
di
00.46
Minggu, 13 Januari 2008
Sekaratnya Suharto
Minggu – minggu ini tiada harian tanpa berita tentang Suharto. Bekas orang nomer satu di negara ini tengah sekarat. Walaupun dia bekas presiden dinegeri ini, tiada satu pun sepak terjang dia yang membuat gue menaruh rasa hormat, bangga apalagi cinta, no way.
Saat tubuh renta, tak berdaya dan rohnya kesulitan untuk meninggalkan raganya saja gue ga merasakan kesedihan apa – apa. Gue ga punya hubungan emosional sama bekas ditaktor berwajah bijak dan pemurah dalam menyebar senyum palsu itu. Kalau ada yang mengajak berkomentar seputar Suharto, istananya, apalagi anak – anak dan kroninya, gue paling suka menjawab” emang gue pikirin, peduli setan, dia bukan siapa – siapa gue”.
Gue ngerasa selama ini gue yang masuk level org – org yang gak gablek, sdh gak sempet mikirin si Raja, kroninya, pemerintah sekarang maupun yang akan datang, boro – boro...mending gue mending cari rejeki halal , dagang apa aja yang penting kagak jual kehormatan dan harga diri dengan membungkuk – bungkuk ( denger – denger para konglomerat/pengusaha gede suka memohon 2 dan bungkuk – bungkuk buat dapetin rangkaian regulasi yang menguntungkannya,..sst gosip ) sambil mikir sukur – sukur harga bahan pokok bisa turun, kali – kali aja margin keuntungan gue gak terus – terusan kalah sama tingginya inflasi dan turunnya nilai rupiah.
Kadang gue yang bego ini, yang ga tahu ilmu tentang ketatanegaraan dan pemerintahan suka nyeletuk dikala para komentator 2 ( baik yang pro pemerintah dan kontra ) , yang berbla 3x, negeri dan rakyat ini da bosen dengan komentar dan jargon 2 palsu, kita bisa hidup kok tanpa ada si Bos 2 itu, emang pemerintahan, pemerintah dan aparatnya, kebijakkan 2nnya itu fungsinya buat apaan sih ?, gue ga ngerti.
Diposting oleh
sari
di
17.41
Label: Opini Bebas
Selasa, 01 Januari 2008
Parodi Diri
Taun baru neeh !. Dimana - mana hampir semua ngucapin selamat untuk kedatangan ..mahluk ini, tak terkecuali saya. Saya ikut mengucapkan basa- basi ini kebeberapa orang yang saya benar - benar saya kenal maupun cuma kenal begitu saja. Saya cuma mengekor, ikut - ikutan kaidah yang sudah umum. Munafikkah ? jawabannya ya terserah anda, munafik memang pakaian saya, yang penting topeng kepura - puraan ini ga ada yang tau, kecuali Tuhan dan diri kita sendiri .
Bersikap palsu, lain di hati lain dibibir, penuh dengan basa - basi bukankah itu sikap keseharian kita, maaf saya maksudnya. Lha wong saya sudah tidak terhitung berapa banyaknya saya tersenyum palsu, memuja palsu, dan berbuat palsu. " Lho, Sar memang kita hidup di zaman yang serba palsu, jadi kita harus berpalsu - palsu", itu kata teman saya memberi dorongan atas sikap palsu saya ." Tapi kamu sebaiknya pilih - pilih orang dalam berpalsu", maksudnya: dengan atasan kita harus berpura - pura rajin bekerja, rajin memuji dan rajin menjilat, jika teman gaul kita itu orang berpunya, berlevel, punya status dan berpenghasilan ok, kita malah dituntut untuk lebih over dalam berpalsu. Kata teman saya lagi untuk mendapatkan jejaring dan kesempatan ( kesempatan apa aja lah ! ) sikap berpalsu ria itu amat perlu.
Jadi apa hubungannya dengan tahun yang silih berganti, lha saya tetap saya yang lama, manusia yang itu - itu juga, beramal palsu, solat palsu, soleh palsu, ramah, anggun sampai sikap sederhana dan rendah hati yang saya tampilkanpun palsu.Waktu berlalu dari waktu - kewaktu yang cuma menghasilkan manusia - manusia yang gak bermutu, ya manusia macam saya ini.
Selamat Tahun Baru ( yang ini semoga tidak palsu ) saya ucapkan hanya kepada dunia yang mungkin sudah bosan dengan sikap palsu, pendefinisian, pengkotakkan, kategorisasi dari semua waktu - waktu yang tlah berlalu tidakkah menuju kesesuatu yang baru ?, ya..saya ga tau jawabannya. Lha saya juga sudah mumet karena terus berpalsu
Diposting oleh
sari
di
17.00
Label: Cerita Bebas
