Minggu – minggu ini tiada harian tanpa berita tentang Suharto. Bekas orang nomer satu di negara ini tengah sekarat. Walaupun dia bekas presiden dinegeri ini, tiada satu pun sepak terjang dia yang membuat gue menaruh rasa hormat, bangga apalagi cinta, no way.
Saat tubuh renta, tak berdaya dan rohnya kesulitan untuk meninggalkan raganya saja gue ga merasakan kesedihan apa – apa. Gue ga punya hubungan emosional sama bekas ditaktor berwajah bijak dan pemurah dalam menyebar senyum palsu itu. Kalau ada yang mengajak berkomentar seputar Suharto, istananya, apalagi anak – anak dan kroninya, gue paling suka menjawab” emang gue pikirin, peduli setan, dia bukan siapa – siapa gue”.
Gue ngerasa selama ini gue yang masuk level org – org yang gak gablek, sdh gak sempet mikirin si Raja, kroninya, pemerintah sekarang maupun yang akan datang, boro – boro...mending gue mending cari rejeki halal , dagang apa aja yang penting kagak jual kehormatan dan harga diri dengan membungkuk – bungkuk ( denger – denger para konglomerat/pengusaha gede suka memohon 2 dan bungkuk – bungkuk buat dapetin rangkaian regulasi yang menguntungkannya,..sst gosip ) sambil mikir sukur – sukur harga bahan pokok bisa turun, kali – kali aja margin keuntungan gue gak terus – terusan kalah sama tingginya inflasi dan turunnya nilai rupiah.
Kadang gue yang bego ini, yang ga tahu ilmu tentang ketatanegaraan dan pemerintahan suka nyeletuk dikala para komentator 2 ( baik yang pro pemerintah dan kontra ) , yang berbla 3x, negeri dan rakyat ini da bosen dengan komentar dan jargon 2 palsu, kita bisa hidup kok tanpa ada si Bos 2 itu, emang pemerintahan, pemerintah dan aparatnya, kebijakkan 2nnya itu fungsinya buat apaan sih ?, gue ga ngerti.
Minggu, 13 Januari 2008
Sekaratnya Suharto
Diposting oleh
sari
di
17.41
Label: Opini Bebas
