Kamis, 30 Agustus 2007

Tan Malaka

Tan Malaka adalah pejuang yang militan, radikal dan revolusioner. Tokoh ini banyak melahirkan pemikiran - pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. Tokoh yang memiliki nama utuh Ibrahim Datuk Tan Malaka, namun lebih dikenal sebagai Tan Malaka, adalah seorang Minang yang merantau di usia muda. Menghabiskan sebagian usianya di mancanegara, khususnya Belanda dan Rusia, Asia Timur dan Asia Tenggara juga pernah disinggahinya.

Tan Malaka adalah sosok kontroversial. Ia adalah tokoh kiri, tetapi tak bersedia patuh pada komunisme Moskwa ataupun Peking, bersikap radikal diluar negeri dan di negerinya sendiri. Di masa revolusi, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Malah sebagian orang menyebutnya sebagai filosof Indonesia yang paling awal. Dalam usia muda ia pernah dielu - elukan dinegara tirai besi, dianggap sebagai tokoh komunis yang disegani di Asia Timur dan Tenggara.

Tan Malaka dikonstruksikan sebagai tokoh pergerakan nasional yang berpemikiran kiri, beliau dianggap menentang pemerintah sehingga dikejar, ditangkap dan dibunuh oleh tentara negerinya sendiri. Ia dianggap tokoh yang banyak ulah, menetang petinggi negara, suka ngotot dan sulit diajak kompromi dan sangat mungkin inilah penyebab kematiannya, ia tewas dibunuh ditangan tentara negerinya sendiri.

Apakah beliau seorang penganut tulen arus besar komunisme Rusia dan Cina ?, ternyata tidak . Hal itu bisa dibuktikan dengan perbedaan pandangannya dari tokoh - tokoh komunisme Rusia seperti Alimin, Semaun dan Muso, yang menghendaki revolusi diterjemahkan sebagai pemberontakan masa rakyat .Tan Malaka memutuskan membelot dari arus komunis Rusia dan China, ia ingin menjadi diri sendiri. Iapun keluar dari PKI dan membentuk PARI.




Rabu, 22 Agustus 2007

Kesejatian


Gue ga yakin di jaman sekarang ini masih ada yang namanya cinta sejati .Kenyataan dilapangan banyak orang yang sudah jelas punya tambatan hati tapi masih sering jatuh cinta kelain hati.


Cinta buat gue bak rimba belantara yang hanya punya sedikit cahaya. Dimana dalam rimba raya itu tiap - tiap jiwa ada disana. Suatu saat dua jiwa bertaut penuh rindu dan cinta. Bagi mereka yang buta ilmu, hati dan mata namun rela masuk ke kedalaman rimbanya, suatu saat saat akan menyesalinya. Jika tidak saat ini mungkin nanti.

Masih menurut gue dalam kesejatian cinta ada kesungguhan, pengorbanan dan keikhlasan yang diupayakan terus menerus dan tak berbatas.Kesejatian bukan mainan murah ecek - ecek , tapi puzzle yang menuntut kecerdasan spritual , emosional dan " intelektual " . Kenapa kata intelektual gue kasi tanda petik ? alasannya adalah keintelektualan disini bukan mutlak milik mereka yang makan bangku pendidikan formal saja, tapi juga milik mereka yang mau belajar terus untuk dapat membaca, mencerna, memahami realita asmara yang terjadi dalam kehidupan, lalu terus menerus berusaha mencapai kesejatian cinta buat diri dan pasangan terkasihnya.

Emang masih ada ! ?? ?, tauk ahh elap





Selasa, 21 Agustus 2007

Kenapa Enggak ?

Mencoba mencintai seseorang yang tidak kita citai kenapa enggak,
pernah denger gak ama pepatah Jawa yang ini nih “ witing tresno
jalaran soko kulino “. yang kalo boleh diartiin cinta bisa tumbuh
karena seringnya bertemu dan berinteraksi itens. Banyak lo pasangan
( suami isteri ) yang tadinya berperasaan datar – datar aja tiba –
tiba jadi suka, rindu lama – lama cinta beneran. Lihat and pasang
kuping deh ama cerita orang yang seangkatan kakek – nenek atau malah
ortu kita sendiri, banyak dari mereka yang menikah lantaran dijodohin
aku sih gak mo ngeributin soal perjodohan ini apalagi ampe konfrontasi
dengan penganut faham anti perkawinan tanpa jatuh cinta dulu, gak
lah ! . Aku cuma pengen aja open minded diriku sendiri bahwa bisa aja
kan dan kenapa enggak kalo aku juga suatu saat dapat suami hasil
perjodohan.

Pribadiku sendiri sih ga penganut faham harus pacaran dulu before
married, argumenku : lama atau sebentarnya pacaran tidak menjamin satu
perkawinan bakal langgeng . pacaran Cuma buang waktu dan
duit ! ?..plus kayaknya lebih banyak palsunya ( hi 3x ) . Pendapatku
ini buat para akademisi mungkin berlebihan dan terlalu cepat mengambil
kesimpulan tanpa dasar pembuktian. Emang sih ! this thesis is just
coming from my opinion that have a basic of my religion, jadi enjoy
aja : ) tuh dalam menjalani kejombloan ini ( kayak iklan rokok tuh ,
ga perlu pusing apalagi ampe 7 keliling ) .
Dijodoin…kenapa enggak selagi:
 Prosesnya baik and pake aturan yang sifatnya tidak maksa banget.
 Para pasangan yang akan dijodohkan haruslah diberi informasi yang
benar tentang bagaimana kekurangan dan kelebihan masing – masing
pasangan dari pihak yang mau ngejodoin.
 Nah jangan lupa akan satu hal yang ga kalah penting yaitu punya niat
dan tujuan yang baik begitu dirimu merasa inilah saat yang tepat
untukmu membangun mahligai rumah tangga
( te’ ile gue kayak nenek – nenek aje nasehatin segala ) .

Penipu Sukses



Aku adalah seorang penipu, maling dan penjarah yang sukses. Hidup
berkecukupan serta hidup terpandang.Sejak awal memang cita - citaku
menjadi penipu yang sukses . Dibesarkan oleh keluarga yang juga
terkenal sukses menipu maka tak salah jika aku ingin meneruskan
dinasti penipu ini . Ibarat kacang yang tak ingin lupa kulit aku akan
meneruskan apa yang telah diajarkan dan diteladankan oleh mami papiku.
Ada satu nasehat mereka yang tak mungkin aku lupa lupakan, begini:
anakku sang pangeran penerus generasiku jadilah penipu ulung yang
kelak dielu - elukan serta diabadikan menjadi pahlawan ini dan itu.

Sungguh orang tua yang bijaksana. Dengan penuh sayang dan limpahan
kemanjaan serta kemewahan dari hasil menipu, maling dan menjarah
dibesarkanlah diriku. Aku benar - benar bahagia dan bangga dengan
mereka . Ya Harta , Benda, Kedudukan dan Gila Hormat yang menjadi
Tuhanku masukkanlah keduanya dalam surgaMu.

Untuk menjadi penipu yang sukses ternyata sangat mudah terutama di
negeri tercinta Abrakadabra ini. Ku pilih kulit bunglon sebagai
stelan jas, kemeja, kaos, piyama berikut sepatu sampai celana dalamku
dengan begitu mereka yang tidak segolongan denganku tidak akan tahu
siapa aku sebenarnya. Dengan memanfaatkan kedudukannku kuperbesar
bisnis raksasa yang tidak lain adalah peninggalan leluhurku.
Berpenampilan santun, soleh, dermawan rumah ibadah dan anak yatim yang
penuh kepura - puraan seakan takut akherat itu akal bulusku.

Satu kali aku terkena sedikiiiit perubahan zaman di negeri ini ( namun
beruntunglah ternyata karena masih banyak kroni dan peninggalan
kharisma tukang tipu dari papi mami ) aku sempat terbelenggu oleh
mereka - mereka yang jelas belum berhasil ku tipu. Tapi tak apalah
hanya sekejap itupun aku masih bisa dengan asik dan bebasnya menikmati
kesuksesaan cecunguk 2 dari imperium papi mami.

Ah... bahagianya aku bisa hidup bergelimpang harta dan wanita tanpa harus
bersusah - payah cukup hanya kepandaian menipu plus berwajah palsu.
Ikuti saja jejakku kalian
tak akan keliru

Antara Kopi dan Cangkir



Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.
Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life.


Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. "Serve yourself," kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

"Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?" sang profesor memulai wejangannya. "Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided," kali ini kalimatnya mulai menekan hati. "So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead," demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.
Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -- artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan -- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, "Take no thought for your life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?" Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembab: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi. Enjoy your coffee, my friend!

Tulisan ini diambil dari Sidang Pembaca SWA/Oleh Bp. Paulus

Senin, 20 Agustus 2007

UKM ( USAHA KECIL MERANA )

Jakarta 27/8/07

Sejak ada konversi minyak tanah ke gas gue sebagai pedagang kecil ( UKM ) Usaha Kecil tambah merana, jadi keder, margin keuntungan gue jadi mempet banget, ditambah harga minyak goreng , gula, telur, susu ( kebetulan burjo yg gue jual gue kasih susu bukan santen seperti yg abang - abang biasa lewat ) yang ga tau kapan turunnya , gue pikir pedagang kecil/usaha kecil kaya gue gini bener - bener harus bisa "akrobat" .

Gue kebetulan jualan buryam, burjo ama kupat tahu Bandung di kantin salah satu Departemen Sewa kantin emang lumayan murah ,Rp 15000/hari ama uang iuran sampah Rp 5000 perak/minggu. Karena gue ga bisa nunggu warung/kantin jadi gue ngegaji 2 org asisten ( pake istilah yg kerenan dikit ) yang satu gue bayar Rp. 15000/hari yang satunya lagi Rp 20000 ( ini karena dia bantuin gue masak & nyiap - nyiapin dagangan sedari rumah ) .

Bisnis gue saat ini emang ga masuk bisnis gede. Jualan da hampir masuk bulan ke enam, tapi modal jualan belum balik, keuntungan bersih ( setelah dipotong bajai ama ngegaji ) nol, sering nombok, kalo dari teori yg pernah gue baca comentnya sih kalo dalam bisnis keuangan pribadi jangan dicampur aduk, duh ! begitu praktek susye, emang kalo uang yang tinggal/ada cuma setengah bahkan sepertempat dari modal belanja awal kita mau diem aja trus usaha ga jalan, gak la yau, the show must go on, my bisnis have to be doing.

Untuk urusan yang satu ini Insya Allah sekuat tenaga gue akan bertahan, nah ! dalam hal ini gue harus yakin selagi gue tetep kerja keras dan berusaha untuk tetep berusaha nyajiin makanan yang enak juga terjangkau suatu saat akan ada efek balik yang bagus ( ini da banyak gue baca dari literatur manajemen bisnis lo ).

Kemaren kebetulan gue sempet down load ( sayang gue lupa, entah itu situs media apa ), disitu gue baca kalo program konversi bisa dibilang gagal, dgn penjelasan dan argumen akademik yang bla 2. Sebagai rakyat kecil gue cuma bisa ngasih pandangan gue yang ecek - ecek and maybe dangkal buat para teorisi yang bergelar akademik serentet. Pemerintah terlalu pake itungan exact tanpa mau ngelibatin analisa sosial dan dgn PDnya yakin banget dalam waktu singkat bangsa ini dgn serta merta dan dlm tempo singkat bakal jadi pemake gas. o ala liat ajalah di lapangan, mayoritas bangsa dan penduduk ini masuk level mana sih !, apa iya pemukiman yang mepet, crowded itu masuk dalam kategori ruang yang layak untuk sirkulasi buat sebuah kompor gas ?.
Satu hal lagi ( mungkin ini lebih karena gue belum nyoba ngitung keuntungan kalo gue pake gas ) yang gue tau ( kebetulan gue pernah pake gas tapi pas jamannya masih Rp. 14000 an utk tabung yang ukuran 15 apa 14 Kg, gue da rada 2 lupa, ) ga semua jenis makanan saji bisa lebih untung kalo pake gas, rendang, buryam gue pikir mungkin bisa jadi biaya produksi lebih gede dibanding gue pake minyak tanah.
Sejatinya gue sih bukan anti program pemerintah tapi mbok ya, kita 2 ni para rakyat kere dan juga para pelaku bisnis ecek - ecek yang mungkin buat pemerintah ga ada untungnya kalo dipikirin mbok ya sedikit ditengok lah , jangan cuma dikasi janji.2 manis yang biasanya jadi jargon politik menjelang kampanye