Saya meyakini bahwa kebahagiaan tidak selalu muncul disaat semua hal yang kita ingini terpenuhi. Ia bisa muncul ditengah kekurangan, ketidakmampuan bahkan ketidakberdayaan memenuhi si keinginan itu sendiri. Bingung ?? enggak juga.. Mengapa saya tidak bingung mungkin berhubungan dengan cara berpikir saya yang teramat sederhana. Apa yang saya katakan itulah yang saya rasakan. Dan mungkin ini hanya karena saya sering mengalami hal- hal dimana keinginan – keinginan saya banyak yang tak terpenuhi saya jadi kebal alias imum .
Stress kata orang – orang pintar salah satunya dipicu oleh rasa kecewa. Kecewa apa yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan., apa yang diidam – idamkan tak sesuai dengan yang dihadapan. Pastinya sebagai manusia biasa jelas saya juga pernah stress. Bokap meninggal, gagal saat ujian, pengen sekolah lagi gak bisa, gak lulus wawancara, gak punya duit, sampe naksir yang enggak kesampaian.. Tapi yaitu tadi karena saya otaknya gak mampu dan gak mau berpikir rumit jadilah saya orang yang cuma bisa nrimo, paling bengong sebentar cuma buat ngadem – ngademin ati dari simahluk yang bernama kecewa.
Kata seorang teman sikap saya yang kayak begitu adalah sikap seorang yang diragukan tingkat empatinya dan cenderung cuek apatis dan tidak optimis. Waduh! Julukan atau istilah istilah itu membingungkan saya. Karena membingungkan ya sudah saya putuskan untuk mengacuhkan saja, buang waktu rasanya memikirkan sesuatu diluar kemampuan. Hanya saya jadi heran kenapa teman yang berkomentar itu kok jadi sering curhat dan banyak mengeluh ya??.
Kamis, 12 Juni 2008
Enggak Rumit
Diposting oleh
sari
di
01.25
Label: Opini Bebas
Selasa, 10 Juni 2008
Logika Jungkir Balik
" Kalangan pengusaha merasa khawatir dengan langkah yang suh dilakukan Dirjen bea dan Cukai Anwar Suprijadi dan KPK dalam melakukan inspeksi mendadak di kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok pada tanggal 30 Mei lalu. Alasan pengusaha khawatir petugas Bea dan Cukai akan menjadi terlalu hati2 karena takut dituduh menerima suap" ( Harian Kompas Sabtu 7 Juni 2008).
Kalau mikir bagaimana tanggapan dan kekhawatiran para pengusaha ini kok rasanya aneh ya?, seperti gak masuk diakal dan terlalu mengaada - ada.Kok yang takut malah jadi dua pihak, pengusaha takut para petugas juga takut. Ketakutan seperti ini menurut saya malah menimbulkan kecurigaan jangan - jangan budaya suap menyuap disatu sisi juga menguntungkan buat para pengusaha yang maunya jaln pintas, biar urusan cepat selesai jalan by pass kalau perlu dilakukan dengan cara suap biar urusan cepat selesai.
Apakah para pengusaha itu kumpulan orang - orang yang berpikiran pragmatis? saya pikir pragmatis yang mana dulu kalau pragmatisnya hanya untuk menghalalkan segala cara tentu tidaklah etis dan tdk dibenarkan. Kekreatifan tentu bukan kreatif yang berujung ekonomi biaya tinggi, biaya siluman yang akhirnya diajust dengan biaya produksi tentu ujung - uungnya konsumen juga yang kena getahnya.
Alasan pengusaha yang takut kalau2 para petugas bea dan cukai dituduh menerima suap malah lebih lucu lagi. Masak yang takut pihak lain para pengusaha lagi?, lha kan seharusnya yang takut itu ya para petrugas bea dan cukainya, ngapain juga harus takut kalau memang sudah mengikuti jalannya standar prosedure perpajakan dsb.
Menurut saya jangan - jangan banyak pihak yang merasa dirugikan kalau kebobrokan yang selama ini terjadi di tubuh institusi pemerintah semisal bea dan cukai itu dibenahi
Diposting oleh
sari
di
18.47
Label: Opini Bebas
Rabu, 16 April 2008
The Soul Of Pictures
Lukisan, satu kata yang bisa mengandung banyak makna. Kita boleh saja mendefinisikannya suka – suka. Saat mata menangkap gambar maka rasa keindahan bisa berbeda, namun kejernihan mata hati dalah juri.
Begitu banyak lukisan dihasilkan namun tak berbanding lurus dengan pencitraan. Lukisan mahakarya adalah peneteraan spirit jagat raya. Cerminan keabadian dari kecantikan ibu bumi
Adalah sang maestro dengan mahakaryanya, besar dan agung. Orisinalitas beresensi kemisteriusan roh dan spirit yang sulit terdefinisikan. Pancaran kekuatan dari universalitas alam kosmis tak terkukung oleh kerangka pigura.
Adalah Sang Maestro dengan Mahakarya. Warna bisa memudar tak lagi cemerlang, namun semangat dan kecemerlangan yang kasat mata akan terus tinggal, tak termakan tuanya dunia dan usia. Itulah hakiki kehidupan yang dipahami dan direfleksi sang maestro, penggores kanvas dan pencitra dari yang dicitrakan.
Diposting oleh
sari
di
20.28
Label: Puisi Bebas
Selasa, 25 Maret 2008
Kamis, 14 Februari 2008
Keindahan yang relatif I
Banyak ragam corak lukisan.
Keindahannya adalah kerelatifan.
Berbeda dengan kebenaran yang berakar dari rujukan.
Rujukan keabadian Qalam Ilahi.
Keindahan lukisan, indah disini belum tentu disana.
Keindahannya adalah perpaduan warna dengan sejuta gradasi dan coretan kuas diri.
Ada watak, kondisi dan suasana hati.
Lukisan, disatu sisi adalah keindahan yang telanjang.
Sisi lainnya tak jarang adalah labirin dan jaring misteri.
Kemisteriusan yang dalam tak berdimensi dan tak berkategori.
Absurd.
Kita adalah pelukis – pelukis itu.
Motivasi, niat, kadar keimanan dan watak kita adalah warna perpaduannya.
Tangan hanyalah alat. Kanvas adalah wahana. Hasil akhir adalah cermin
Apakah kanvas akan kebenaran mampu mengalahkan keindahan ?.
Keindahankah yang mengalahkan kebenaran ?.
Atau keduanya membentuk harmonisasi ?.
Lukisan ber-rujuk kebenaranlah yang memiliki keindahan hakiki.
Misteri transenden yang tersembunyi.
Keindahan surgawi yang merasuk dihati.
Mendamaikan.
Menenangkan dan menyelamatkan.
Diposting oleh
sari
di
20.31
0
komentar
Label: Puisi Bebas
Selasa, 12 Februari 2008
Korban HAM Tak Ingin Maafkan
Korban HAM Tak Ingin Maafkan
Published by Anonymous on 14/Jan/2008
Memaafkan itu urusasn nanti, setelah pemerintah melaksanakan proses hukum.
Sabtu, 12 Jan 2008,
Korban HAM Tak Ingin Maafkan
JAKARTA - Sejumlah keluarga korban pelanggaran HAM (hak asasi manusia) pada era kekuasaan Soeharto kemarin menyempatkan diri ke RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina). Mereka berdoa supaya mantan presiden itu kembali sehat serta meminta agar kesalahannya sebagai pelaku kekerasan HAM tetap diusut.
"Pemerintah dan politisi harus memandang keberadaan kami sebagai korban pelanggaran HAM yang dilakukan Soeharto," tegas Bejo Untung, salah seorang korban pelanggaran HAM peristiwa 1965, di lobi RSPP kemarin. Bejo bersama sekitar 30 anggota keluarga korban pelanggaran HAM dari peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, penculikan 1997/1998, dan Trisakti 1998. Tampak pula bersama mereka Suciwati, istri aktivis HAM almarhum Munir, dan Koordinator Kontras Usman Hamid.
"Atas nama kemanusiaan, kami ke sini adalah ingin mendoakan Soeharto supaya segera sembuh," sambung Suciwati yang mengajak anaknya, Alif, ikut serta kemarin.
Menurut Suciwati, segala dalih untuk memaafkan Soeharto karena sakit yang dideritanya saat ini bukanlah bentuk kemanusiaan. Jika dihadapkan pada nasib yang diderita para korban Soeharto di masa lalu, upaya tersebut sama saja dengan menghapus segala upaya yang dilakukan anggota keluarga korban pelanggaran HAM. "Kemanusiaan yang hakiki adalah kebenaran dan keadilan. Karena itu, kebenaran dan keadilanlah yang tetap harus ditegakkan di dunia ini, bukan menutupinya, " tegasnya.
Bejo yang memimpin kunjungan itu menceritakan, dirinya menderita akibat perampasan HAM sejak semasa muda. Saat itu, kata pria yang kini berusia 60 tahun tersebut, tanpa alasan yang jelas, dirinya yang bergabung dalam Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia dijebloskan ke penjara selama sembilan tahun. "Saya dipenjara selama sembilan tahun tanpa alasan yang jelas dan juga tanpa pengadilan yang memutuskan apa pun," ungkapnya.
Oleh karena itu, Bejo yang juga menjabat ketua Yayasan Penelusuran Pembunuhan 65 tersebut menilai permintaan maaf yang dialamatkan kepada Soeharto sangat tidak beralasan dibandingkan dengan penderitaan yang dia alami dan ribuan warga lainnya. Kondisi sakit yang dialami penguasa Orde Baru itu tidak boleh menjadi dalih pemerintah untuk menghentikan proses hukum yang belum menemui kejelasan. "Memaafkan itu urusan nanti, setelah pemerintah melaksanakan proses hukum," tandasnya.
Di tempat yang sama, Koordinator Kontras Usman Hamid menyatakan, kondisi yang dialami Soeharto seharusnya menjadi penggerak bagi Komnas HAM, DPR, presiden, dan jaksa agung untuk segera melakukan proses hukum atas semua peristiwa pelanggaran HAM di bawah tanggung jawab Soeharto. "Pemerintah harus menegakkan komitmennya bahwa segala proses hukum harus dilakukan kepada siapa pun dengan tetap memperhatikan asas praduga tak bersalah dan hak-hak asasi manusia," ujar Usman.
Menurut dia, pemerintah harus tetap dalam koridor objektif dalam melanjutkan kasus hukum yang dialamatkan kepada Soeharto. Dalam hal ini, pemerintah tidak boleh menghiraukan pendapat-pendapat sekelompok pihak atau individu yang ingin memaafkan Soeharto karena sakit. "Harus dilihat apakah pertimbangan jasa yang dilakukan Soeharto sebanding dengan pelanggaran HAM yang dilakukan," katanya. Usman juga menyebut, jika Soeharto meninggal, proses hukum bisa dilakukan secara in absensia. )
Sumber: Jawa Post
Diposting oleh
sari
di
17.47
Minggu, 27 Januari 2008
Kematian Paman Gober/nyambung crt Mas Seno
Akhirnya hari yang ditunggu – tunggu datang juga . Hari kematian Paman Gober yang sangat ditunggu – tunggu itu. Ditunggu oleh saya dan kami penduduk kota Bebek. Di hari itu tidak ada media yang tidak meliput kematian Paman Gober. Ada media yang menyanjung – nyanjung tapi ada juga media yang menyanjung jasa – jasa beliau dan tak lama membuka borok – boroknya
Saya sendiri, satu dari sekian penduduk kota Bebek yang mengharapkan kematiannya turut mendengar dan menyaksikan ” keramaian ” seputar berita orang yang terkaya di kota Bebek.
Di televisi saya juga melihat bagaimana anak – anak Paman Gober penuh dengan kesedihan, menangis seraya menghiba , memohon maaf atas kesalahan – kesalahan Paman Gober dan tak lupa meminta kami juga turut mendoakannya. Sayang sekali saya tak punya naluri jadi saya bengong – bengong saja , tanpa kesedihan apalagi kehilangan. Tidak menangis seperti tetangga saya yang dulu pernah jadi bodyguard anak bungsu kesayangan si Paman Gober.
Di televisi pula saya menyaksikan berkumpulnya dinasti Paman Gober. Ada anak – anaknya, mantu, besan, para cucu dan tak ketinggalan para kroni sekalian . Anak – anak yang disayanginya itu semua nampak bersedih . Entah sedih belum kebagian proyek , harta warisan atau sedih beneran. Saya tidak tahu, yang saya tahu cuma kelakuan anak – anak Paman Gober yang tak tahu malu. Memalukan si bapak sendiri juga memalukan diri dan dinasti.
Paman Gober akhirnya mati juga. Apakah dengan kematiannya berakhir dinastinya ?, mudah – mudahan saja. Tapi saya juga tidak merasa yakin karena masih ada generasi setianya, yang akan terus meneruskan cita – cita ingin terus mengeruk semua kekayaan kota Bebek dengan cara lama . Yaitu memanipulasi penduduknya dengan retorika keadilan, pembangunan, pemerataan dan persamaan dimata hukum.
Sejak sakitnya si Paman saja, kalangan keluarga maupun para mantan dan pendukung setianya sudah banyak melakukan usaha gembar – gembor lewat berbagai media. Menceritakan, mewartakan akan jasa – jasa Paman Gober terhadap negeri yang entah kapan makmurnya ini. Menyanjung – nyanjung kesetian Paman pada sang isteri dan juga kecintaan beliau pada keluarga . Mengarang ini dan itu agar tercipta keseragaman image bahwa karena Pamanlah kota Bebek jadi maju, makmur dsb.
Wauarakadabrah!!! ( kayak Pailul nya Panji Koming ) Saya pikir – pikir Paman Gober ini memang patut juga jadi tokoh sejarah. Saya patur mengenangnya. Mengenang kepemimpinannya yang juga telah memporak porandakan tatanan hukum, keadilan dan demokrasi di kota Bebek.
Diposting oleh
sari
di
17.16
