" Kalangan pengusaha merasa khawatir dengan langkah yang suh dilakukan Dirjen bea dan Cukai Anwar Suprijadi dan KPK dalam melakukan inspeksi mendadak di kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok pada tanggal 30 Mei lalu. Alasan pengusaha khawatir petugas Bea dan Cukai akan menjadi terlalu hati2 karena takut dituduh menerima suap" ( Harian Kompas Sabtu 7 Juni 2008).
Kalau mikir bagaimana tanggapan dan kekhawatiran para pengusaha ini kok rasanya aneh ya?, seperti gak masuk diakal dan terlalu mengaada - ada.Kok yang takut malah jadi dua pihak, pengusaha takut para petugas juga takut. Ketakutan seperti ini menurut saya malah menimbulkan kecurigaan jangan - jangan budaya suap menyuap disatu sisi juga menguntungkan buat para pengusaha yang maunya jaln pintas, biar urusan cepat selesai jalan by pass kalau perlu dilakukan dengan cara suap biar urusan cepat selesai.
Apakah para pengusaha itu kumpulan orang - orang yang berpikiran pragmatis? saya pikir pragmatis yang mana dulu kalau pragmatisnya hanya untuk menghalalkan segala cara tentu tidaklah etis dan tdk dibenarkan. Kekreatifan tentu bukan kreatif yang berujung ekonomi biaya tinggi, biaya siluman yang akhirnya diajust dengan biaya produksi tentu ujung - uungnya konsumen juga yang kena getahnya.
Alasan pengusaha yang takut kalau2 para petugas bea dan cukai dituduh menerima suap malah lebih lucu lagi. Masak yang takut pihak lain para pengusaha lagi?, lha kan seharusnya yang takut itu ya para petrugas bea dan cukainya, ngapain juga harus takut kalau memang sudah mengikuti jalannya standar prosedure perpajakan dsb.
Menurut saya jangan - jangan banyak pihak yang merasa dirugikan kalau kebobrokan yang selama ini terjadi di tubuh institusi pemerintah semisal bea dan cukai itu dibenahi
Selasa, 10 Juni 2008
Logika Jungkir Balik
Diposting oleh
sari
di
18.47
Label: Opini Bebas
