Kamis, 25 Oktober 2007

Terkenang Bokap

Malam tadi sekitar jam sepuluan kepala gue udah penuh, gue pengen cerita macam - macam, kalo gue punya lap top pasti gue udah writing banyak tuh di word. Ide gue dari masalah cewek matre, pernikahan, kasusnya si pesulap copperfield, grammen bank sampe impian gue punya warung kecil tapi rejeki gede. Ehh ga tau kenapa jadi keingetan bokap nih!, tadinya gue mau nulis essay tiba - tiba jadi ngelantur ( flash back ke bokap, ). Bokap gue adalah salah satu dari sekian orang yang terpinggirkan oleh rezim orba . Dia sempat ditangkap ( kata nyokap pas nyokap lagi hamil tujuh bulan ) dengan alasan ga jelas, terus dituduh ini itu dan sempet ditahan hanya karena bersebrangan paham.

Jadi aja gue pengen inmemoriam bokap, mumpung masih pagi buta ( sekitar jam 7 an untuk ukuran kantor gue ) dan kepala masih all filling in about him , tapi... berarti gue pake fasilitas negara ya ? ( satu dari nilai idialis gue yang sekarang luntur, gue sering pake komputer kantor buat nulis kepentingan pribadi ) sesuatu yang sungguh memalukan dan terlarang ya ! . Ini juga jadi bahan pemikiran gue, sejujurnya gue pengen ngikutin almarhum bokap gue, dia seorang lelaki dengan kehidupan yang sederhana tapi bahagia, adem tentrem ( ini retelling yang gue dapat dari bokap ) . Bokap hidup dalam dunianya, dia jalani hidup dengan nilai - nilai idialisme yang diyakininya dan ini yang bikin gue salut. Dari beliau gue banyak tau tentang nilai - nilai dan etika hidup yang mestinya gue ikutin . Gue ga bisa sepenuhnya kayak bokap, gue masih terlalu pengecut untuk berani tegak dan hidup dengan idealisme. sekarang aja gue nulis pake listrik negara, sesuatu yang kata bokap kalo mati diminta pertanggung jawabannya karena gue makan jatah yang bukan hak gue.

Pengalaman - pengalaman bokap, ide - ide, nilai idieologi dan idialisme beliau lah yang banyak membuat gue terkesan, sayang, hormat dan cinta. dari yang gue tangkap dia pro dengan substansi nilai - nilai nasionalis Soekarno, Syahrir, Hatta dan Agus salim. Ada banyak nilai - nilai hidup yang gue tangkap dari tutur dan prilaku beliau. Gue bahagia jadi anaknya, dia juga yang ngedidik gue untuk ga jadi cewek cengeng yang cuma bisa nangis hanya karena kekurangan , kesulitan materi atau persoalan hidup yang ecek - ecek. Satu prisip strick bokap yang buat gue masih sulit untuk gue terapkan an sich adalah mempertahankan kejujuran yang dilandasi oleh niat baik dan ikhlas dalam menjalani hidup.Buat bokap gue nilai - nilai kejujuran yang berorientasi transenden ke Ilahianlah yang mampu membangun semangat untuk tetap bertahan hidup dizaman segila apapun.

Bokap dah meninggal hampir dua belas tahun yang lalu, dia meninggal dengan membawa kesederhanaan, kewibaan serta keberanian seorang lelaki . Keluarga gue bukan keluarga kaya raya, bokap dulunya pernah gawe tapi akhirnya dia lebih milih resign, ektreemnya beliau lebih senang disebut beroposisi. Bokap bilang lebih enak jadi kuli bagi diri sendiri dan untuk menyambung hidup, nyokap dan bokap membuka warung nasi. Dengan ijin Allah kita hidup, makan, bersekolah dan sukur ada yang nyampe kuliah, itu semua adalah hasil usaha warung. Kalo inget - inget jadi senyum sendiri ( karena begitu kita - kita beranjak besar karyawannya adalah anak - anaknya sendiri yang kalo bantuin baru dapat gaji untuk uang saku, bayaran, beli buku dll nya ).

Gue masih punya utang ama bokap, bokap pernah nyinggung soal salah satu buku Pramudya yang dia belum baca dan gue janji mau beliin, belum kesampaian beliau keburu sakit ( ga lama, beliau ga sadar 2 hari terus meninggal ). Maaf ya pak karena aku belum bisa menepati janji dan da banyak ngelanggar nasehat bapak, so very sorry.

I love U so much.