Senin, 17 September 2007

Gnothi Se Authon by ALFATHRI ADLIN

Gnothi Se Authon ( Kenalilah dirimu sendiri ) . Ucapan kata mutiara Apollo itu digunakan socrates untuk mengajari warga Athena agar mengenali siapa diri mereka sejati. Kehidupan yang tidak ditafakuri ialah kehidupan yang tidak layak dijalani.

Manusia menurut Socrates mempunyai "diri yang nyata" yang harus ditemukan dan dikenali oleh dirinya sendiri. Kebahagiaan yang nyata terdapat dalam pengenalan akan diri yang nyata tersebut.Dengan mengenal siapa dirinya manusia akan mengetahui bagaimana sebaiknya berbuat.

Socrates menghimbau kaum muda untuk brtafakur agar dapat mengenal diri sendiri. Walaupun pengetahuan dapat dipelajari melalui debat dan diskusi, Socrates tetap menekankan bahwa pengetahuan yang nyata mengenai esensi harus dicapai dengan pengenalan diri sendiri.

Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar - benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, melainkan untuk mengetahui , atau bahkan mengeksploitasi segala hal selain diri sendiri.
Frederich Nietzche, seorang filsuf Jerman abad XIX, juga sudah mensinyalir hal tersebut dengan mengatakan : Kita tak kenal , kita ( yang katanya berpengetahuan ) tak kenal diri sendiri ....niscaya kita tetap asing bagi diri kita sendiri, kita tak paham diri kita sendiri.

Manusia tak ubahnya tanah liat tak berbentuk dan menantikan dibentuk menjadi apapun. Identitas kita dipandang hanya sebagai konstruksi sosial - budaya belaka yang menjadi cetakan bagi manusia yang terlempar kedalamnya. Pandangan seperti ini semakin mengarahkan manusia untuk bergerak, melihat, dan mempelajari segala sesuatu diluar dirinya dan melupakan khasanah dirinya sendiri.

Dalam tren buku - buku psikologi populer, manusia malah lebih sering diarahkan untuk terobsesi menjadi orang lain yang dipandang sebagai simbol paripurna. " bagaimana menjadi Michael Jordan misalnya. Padahal, orang yang selalu ingin menjadi seperti orang lain adalah pecundang.
Socrates tentang pengenalan diri yang nyata atau diri sejati sudah mengisyaratkan tentang "cetakan" primodial manusia. Gunting yang dibuat untuk menggunting tentu akan melakukan kerja tersebut lebih baik daripada benda lainnya. Begitupun manusia dia diciptakan untuk sebuah tujuan , dan dapat melaksanakan tujuan tersebut dengan lebih baik dari padamahluk lain yang tidak diciptakan untuk tujuan itu.

Dalam ajaran Socrates terlihat adanya "energi minimal", sebuah energi dimana seseorang terlihat oleh orang lain seperti tengah bekerja keras mengerjakan sesuatu. Padahal, bagi yang bersangkutan, kerja keras tersebut tak ubahnya seperti ikan yang bernapas di air. begitu mudahnya melarutkan diri dalam keasyikan dalam kerja.

Akan tetapi, tak setiap energi minimal tersebut dimanfaatkan oleh manusia untuk memahami dirinya . seringkali yang terjadi adalah; terciptanya jurang yang lebar antara pengetahuan yang diperoleh melalui energi minimal tadi dan pengenalan diri melalui pengetahuan tersebut.

KOMPAS 17 Nofember 2007